Matahari Terbit

Selama matahari masih terbit dari timur dan tenggelam di barat, tiada kata berhenti untuk berjuang menggapai impian.

Rerumputan

Jadilah seperti rumput yang lemah gemulai, tak luruh walau dikungkung ribut. Jadilah seperti karang di dasar lautan, tak terusik walau dilanda badai.

Mercusuar

Bangunlah kepercayaan diri semaksmial mungkin. Jadilah seperti mercusuar yang kokoh berdiri di kegelapan dan mampu memberi cahaya bagi sekelilingnya.

Bunga Bermekaran

Jangan risaukan masa depan, tapi pikirkan bagaimana merancangnya dengan penuh keyakinan. Setiap datang kesulitan hari ini, esok pasti akan datang dua kemudahan.

Dunia sebagai sarana menggapai keridhaan Illahi

Genggam dunia dengan tangan kita, jangan biarkan dunia menguasai hati kita.

Sabtu, 19 Desember 2015

Sekolah Kejuruan? Why Not! (Dedikasi untuk Almamater SMK N 1 Bogor)

Bismillaah

Sumber : google

Sumber : google

Sumber : Google


Dulu, saya pilih Sekolah Menengah Kejuruan mungkin lebih karena minimnya informasi yang saya miliki mengenai sekolah yang cocok untuk saya. Waktu itu saya sekolah di SLTP N 1 Cibinong, sekolah menengah pertama terbaik di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dulu, untuk masuk ke sekolah negeri hanya menggunakan indeks NEM (Nilai Ebtanas Murni). Inginnya saya setelah lulus SMP, saya melanjutkan ke SMU N 1 Bogor, sekolah favorit di Kota Bogor. Saya ogah masuk SMU N 1 Cibinong yang letaknya bersebelahan dengan SMP saya. Saya pikir saya harus mencari suasana baru. Saya harus cari sekolah di Kotamadya.

Sayangnya NEM SMP saya waktu itu hanya 40,66 dari 6 mata pelajaran. Ah saya sedih sekali, itu saya sudah berusaha belajar sungguh-sungguh dan ikut kelas bimbel. Tapi memang saya kurang menikmati pelajaran yang diberikan di kelas bimbel. Saya bersyukur saja mendapatkan NEM segitu. Anyway saya juga pernah menjadi juara Try Out di bimbel, ngga nyangka, nilai Try Out saya sebetulnya sama dengan teman saya, yang tentu dia jauh lebih pintar dari saya. Hasil nilai kami sama persis, kami akhirnya diberikan soal tambahan. Memang rejeki saya ya, teman saya itu hanya salah sedikit aja padahal, akhirnya saya yang keluar jadi juara 1. Lumayan membawa pulang piala, hehe.. Alhamdulillaah. - By the way, di Try Out periode berikutnya saya hanya menjadi peringkat ke-4, teman saya yang awalnya sempat bersaing nilai dengan saya dia masih stabil, malah jadi juara 1 dengan nilai yang jauh dengan peringkat 2. Saya pun menangis sampai di rumah, karena pulang tidak bawa apa-apa. Begitulah saya, bagus di awal, sukses, kemudian terbuai dan akhirnya jatuh lah.. :D

Saya merasa waktu itu saya sudah cukup optimal belajarnya. Saya putus kontak dengan siapapun selama sebulan penuh demi untuk fokus belajar. Saya bahkan cuti dari kelas kursus Bahasa Inggris. Mungkin memang rejeki saya cuma segitu saat itu. Teman saya yang sama-sama ikut bimbel pun dia hanya mendapatkan NEM 42 koma sekian. Itu sudah nilai tertinggi di sekolah saya saat itu. Tahun itu ternyata memang hampir semua siswa mendapatkan nilai rata-rata yang lebih rendah dari tahun sebelumnya.

Saya yakin saya tidak akan bisa masuk SMU impian saya. Saya harus mencari sekolah lain. SMU N 3 Bogor, katanya dulu artis Sahrul Gunawan bersekolah di sini juga. Saya ke sana dengan seorang teman. Betapa sedihnya saya, ketika begitu masuk gerbang, saya ditanya salah seorang pegawai sekolah – mungkin staf TU atau guru ya?, saya ga sempat bertanya waktu itu. Ditanya berapa NEM saya, saya bilang sekian. Dia langsung underestimate. Katanya, tahun kemarin aja NEM minimal masuk sana 41 koma sekian. Ada SMAKBO sebetulnya, Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor. Tapi saya ngga mau masuk sana, karena katanya di sana pelajarannya berat, ketat disiplinnya, selain juga bayarannya mahal. Ah saya langsung putus harapan. Saya ngga tau lagi mau cari sekolah yang mana lagi di kota Bogor karena saya ga hafal satu persatu.

Akhirnya.. Saya lihat teman-teman dekat saya banyak yang mendaftar ke SMK N 1 Bogor. Sekolah Menengah Kejuruan Kelompok Bisnis Manajemen dan Pariwisata. Ya sudah lah, saya pikir saya ikut saja bareng dengan teman-teman yang lain. Eit, tapi saya mau survey dulu, sekolahnya seperti apa. Begitu saya mendatangi lokasi, saya begitu takjub dengan bangunannya yang besar (untuk ukuran saya saat itu ya, haha) dan rapiiii.. Cukup dengan melihat bangunan fisik sekolah, saya langsung bulatkan keputusan saya, saya akan daftar menjadi siswa di SMK N 1 Bogor. Padahal saya pernah bilang duluuu banget, saya ga akan mau masuk SMEA lho, kesannya itu kalo masuk SMEA pasti nanti kerja, ga akan bisa kuliah, padahal... Nanti saya ceritakan soal ini... ;)

Berikutnya saya melewati proses seleksi. Rupanya di SMK N 1 Bogor menganut sistem seleksi dengan pembobotan nilai NEM. Jadi tidak murni dari NEM. Untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia mendapatkan bobot dua kali, sementara mata pelajaran lain bobotnya hanya 1. Alhamdulillah waktu itu hasil pembobotan nilai saya lumayan besar, saya masuk di urutan nomor 5 di antara seluruh siswa yang diterima (ada sekitar 9 kelas dikali setiap kelas ada kurang lebih 40 an siswa). Melalui pemeringkatan ini akhirnya saya selama bersekolah di sana mendapatkan beasiswa dari Yayasan Supersemar. Lumayan.. Alhamdulillaah..

Setelah melewati proses registrasi ulang, saya masuk di kelas 1 BM 1. BM = Bisnis Manajemen. Kelas BM saat itu ada 7 kelas. Sementara kelas PW = Pariwisata ada 2 kelas.

Masa orientasi banyak diisi dengan mendegarkan paparan dari pejabat sekolah. Dan pastinya penuh dengan acara yang sudah disusun oleh senior. Entah, mungkin sama saja ya, di setiap sekolah menengah atas pasti lebih terarah saat masa orientasi ketimbang waktu di jenjang sekolah menengah pertama.

Masa orientasi berlalu, kami siswa/i baru wajib mengikuti kajian keagamaan dan kegiatan ekstrakurikuler di hari Jum’at. Ada dua jenis kegiatan ekskul yang sifatnya wajib diikuti di tingkat pertama. Pramuka dan PMR. Setiap siswa wajib memilih salah satu di antara keduanya. Setiap hari Jum’at wajib memakai seragam sesuai dengan ekskul yang dipilih. Saya dengan pertimbangan pernah mengikuti ekskul PMR sewaktu SMP dan ternyata tidak seru, saya putuskan ikut Pramuka. :D

Di sekolah saya ada banyak ekskul lainnya. Paskibra, Basket, Teater, ROHIS dsb. Waktu itu saya juga mengikuti ekskul Paskibra dan Basket. 

Para siswa baru juga mendapatkan jadwal untuk menjaga Koperasi Siswa dan Perpustakaan. Mungkin ini ada kaitannya dengan jurusan yang ada di sekolah. Naik kelas 2 untuk Bidang Studi Bisnis Manajemen akan dikelompokkan ke dalam beberapa Program Studi, yaitu Akuntansi, Sekretaris, Penjualan dan Koperasi. Mungkin kegiatan menjaga Koperasi Siswa ada kaitannya dengan jurusan Koperasi dan Penjualan. Mengenalkan kami seperti apa gambaran jurusan yang mungkin nanti akan kami pilih. Sementara kegiatan menjaga perpustakaan sepertinya kaitannya dengan jurusan Sekretaris, yaitu dalam hal pengarsipan.

Belum selesai sampai di situ, kami para siswa kelas 1 juga diberikan pilihan untuk mengikuti les yang sifatnya wajib. Setiap beberapa kelas mendapatkan mata pelajaran yang sama, sementara yang lain mendapatkan mata pelajaran yang berbeda. Kebetulan kelas saya saat itu mendapatkan les Akuntansi dan Komputer. Tentu saja semua les ini bersertifikat. Saya sampai saat ini masih menyimpan sertifikat Akuntansi Dasar (Ujian Negara) dan sertifikat Komputer (Windows).

Bagi yang nanti kelas 2 nya jurusan Akuntansi, tentu bisa melanjutkan ke level berikutnya sampai ke tingkat Mahir. Saya tidak mengikuti les Bahasa Inggris karena tidak memungkinkan, dalam seminggu aktivitas para siswa baru begitu padat. Tapi saya sempat mengikuti Ujian Negara untuk Bahasa Inggris sampai ke Tingkat Mahir saat kelas 3, Alhamdulillah lulus walau dengan nilai pas-pasan, karena tata bahasanya baku sekali, ah bilang aja karena memang belum mahir.. :p

Saatnya penjurusan...

Saya, begitu juga sebagian besar kawan-kawan saya selalu ngeri ketika Guru Akuntasi kami masuk kelas. Saya dulu orangnya gampang banget terbawa kata orang. Apalagi pas memang beliau mengajar suasana jadi serba tegang. Serius saya akhirnya jadi takut untuk masuk jurusan Akuntansi. :p

Padahal, setelah itu saya dengar beliau orangnya baik, sering sekali mendukung kegiatan ROHIS. Ada rumor untuk masuk jurusan Akuntasi nilai Akuntasi kita harus 9, sementara saya di awal semester cuma dapat 6. Padahal, hampir semua siswa juga mendapatkan nilai yang sama, bahkan untuk desimalnya banyak yang di bawah saya (dulu nilai raport saya sudah pake desimal, misal 6,45).

Karena saya udah kadung takut duluan, waktu ditanya sama wali kelas mau masuk jurusan apa, saya bilang Nomor 1 pilihan saya adalah Penjualan, yang waktu itu jurusan Penjualan itu gimana ya.. Sebetulnya kurang diminati, karena konotasinya lebih ke sales, padahal mah ngga selalu juga sih. Tapi saya bilang ke beliau jurusan Penjualan sebagai pilihan 1. Pilihan ke-2 nya Sekretaris. Ah padahal saya berat untuk masuk jurusan Sekretaris. Saya ini tomboi, dalam bayangan kita semua, saya dan teman-teman, masuk jurusan Sekretaris harus pinter dandan, harus rapi dsb. Tapi saya pikir biarlah, toh pilihan pertama saya jurusan Penjualan, daripada saya harus masuk jurusan Akuntasi yang menyeramkan. :D

Sejenak wali kelas saya melihat nilai-nilai di raport saya. Terus beliau bilang, kalau masuk jurusan Penjualan sayang, karena nilai Bahasa Inggrisnya bagus. Lebih cocok masuk jurusan Sekretaris. Saya yang mendengar kata-kata ‘BAGUS’ untuk nilai Bahasa Inggris langsung berbunga-bunga. Ah masa sih bu? Tiba-tiba saya yakin saya dapat nilai 9. Saya PD karena memang di kelas, saya termasuk yang selalu mendapatkan nilai tinggi untuk Bahasa Inggris dan juga aktif salah satunya dalam sesi Listening di Lab Bahasa. Karena senang itulah, akhirnya saya dengan semangat putuskan, saya pilih jurusan Sekretaris. Woww langsung heboh deh di kelas, lebih-lebih teman-teman dekat saya. Karena kami sudah janji akan masuk jurusan yang sama, yaitu jurusan Penjualan. Tapi saya beda sendiri dan ternyata nilai Bahasa Inggris saya waktu itu Cuma 8,68, ngga nyampe 9. Tapi itu sudah tertinggi sih di antara temen-temen yang lain, tapi tetep aja akhirnya nyesel karena sebenernya berat masuk jurusan Sekretaris. 

Setelah penjurusan...

Anak kelas 2 baru mendapatkan seragam kejuruan. Ini dipakai seminggu sekali. Yang tidak memakai jilbab menggunakan syal tambahan atau dasi, sesuai aturan jurusan. Yang berjilbab syal nya dijahit di tepi jilbab. Jadi terlihat rapi, mungkin di sisi ini kelebihan anak SMK.

Oya saya belum bercerita, kalau sejak duduk di bangku kelas 1, para siswa juga mendapatkan jadwal piket selain piket kelas juga piket membersihkan sekolah, sesuai pembagian. Misal kelas 1 BM 1 di halaman depan, kelas lain di lapangan, kelas yang lain lagi di sisi sekolah, di kamar mandi, di mushola, di koperasi dan sebagainya. Itu lah yang menjaga sekolah tetap bersih, karena kalau hanya mengandalkan seorang tenaga kebersihan sekolah saja, pasti tidak akan sanggup, karena sekolahnya cukup luas. Di setiap sudut sekolah pun dipasang cermin besar, tujuannya agar para siswa lebih rajin memperhatikan penampilan, apa sudah rapi atau belum, biasa anak-anak seusia kami juga saat itu memang senang sekali bercermin. Hehe.

Di kelas 2, kami semua mendapatkan kewajiban magang, bisa di perusahaan bisa juga di instansi pemerintah. Boleh minta dicarikan oleh pihak sekolah, boleh juga mencari sendiri. Kebetulan ayah teman saya bekerja di salah satu perusahaan milik asing, beliau bekerja di bagian HRD, alhamdulillah kami diberi peluang untuk magang di sana selama 3 bulan, padahal biasanya di sana anak-anak Prakerin (Praktek Kerja Industri) hanya diberi waktu 1 bulan saja. Kami memang tidak ditempatkan di bagian kantor depan, jauh dari gerbang utama, tapi suasana tempat kami magang sangat bersahabat. Kami juga mendapatkan fasilitas transportasi dan makan siang yang sama seperti karyawan yang lain. Semuanya free. Bahkan ketika menjelang libur hari raya, kami diberi cindera mata kalender. Itu saja senang? Iya, itu saja membuat hati saya senang, walaupun saya dengar teman-teman dari jurusan Penjualan yang magang di departemen store mendapatkan uang saku per bulannya dan juga tambahan bonus hari raya. Tidak mengapa, karena saya mendapatkan pengalaman magang di salah satu perusahaan terbesar, PT DaimlerChrysler Indonesia, pabriknya mobil Mercy. ^_^

Oya untuk mata pelajaran kewirausahaan, kami dari sejak kelas 1 sudah diajarkan berjualan. Kelas 1 kami diminta berjualan kosmetik dan minuman jahe, ketika mencapai target penjualan, kami akan diberika sertifikat dari pihak perusahaan. Saya sampai sakit-sakit demi mencapai target penjualan kosmetik, karena targetnya lumayan besar untuk saya saat itu, sudah ada sertifikatnya, tapi selalu lupa untuk diambil, akhirnya saya tidak pernah mendapatkan sertifikat itu. Hiks.

Di kelas 2, guru mata pelajaran kewirausahaan kami lebih kreatif lagi, meminta kami untuk berjualan apa saja di sekolah, jadi membawa dagangan ke sekolah. Dikerjakan per kelompok. Saya, dengan ide saya mengajak teman-teman satu kelompok untuk berjualan es rujak. Alhamdulillah untungnya 100% 

Di kelas 3, kami diminta berjualan gel penghangat badan. Karena punya pengalaman buruk dengan target penjualan, akhirnya saya hanya menjual sedikit saja, sekedar syarat. Padahal saat itu masih banyak yang menanyakan produknya, karena segmentasinya cocok dengan rekan-rekan pensiunan Ayahanda, jadi laku keras. Tapi saya stop saja karena saya pikir belum tentu nanti saya mendapatkan sertifikat atau apa lah. Saya salah, perusahaan yang terakhir ini sangat menghargai hasil penjualan para siswa. Ada yang berhasil menjual produk tersebut paling banyak diberikan award, hah saya menyesal kenapa selalu saja meremehkan, padahal jangan patah semangat yaa :D

Ketika kelas 3, guru Bahasa Inggris kami mewajibkan adanya perwakilan dari masing-masing kelas untuk berpidato dalam Bahasa Inggris setiap habis melaksanakan upacara bendera di hari Senin. Saya juga pernah kebagian, ya pede aja lah berdiri dan berpidato di podium tempat Pimpinan Upacara biasa berdiri. :D

Ada yang unik dari sekolah kami, setiap tahun diselenggarakan HUT SMK. Ada macam-macam lomba diselenggarakan. Waktu kelas 1, saya mewakili kelas ikut dalam Speech Contest. Hah saya tampil pertama, itu pertama kali saya tampil di depan umum. Tangan saya gemetar, grogi, suara saya hampir hilang. Hahahaha. Kelas 2 hampir separuh waktu belajar kami dihabiskan di tempat magang. Dan ketika kelas 3, saya dan teman-teman mengikuti Lomba Karya Tulis. Kami menulis tentang sistem belajar mengajar, terinspirasi dari beberapa buku anak muda yang pernah kami baca. Karya Tulis kami menang, alhamdulillaah. Dan saya juga mengikuti speech contest lagi, sebetulnya seharusnya bukan saya yang maju, entah apa alasan mereka mundur. Mungkin karena di final, kami harus berbicara di depan kepala sekolah, wakasek dan semua guru, tentunya juga di depan semua siswa yang hadir. Dan entah bagaimana akhirnya grup saya menang. Ah saya merasa paling payah kok waktu itu. Wkwkwk

Saya tidak tahu apakah sekolah menengah lain juga sama, tapi di SMK kami para siswa diberi kurikulum mata pelajaran Bahasa Inggris yang berbasis pada TOEIC (Test of English for Intenational Communication). Diberi materi grammar dan banyak sekali listening. Dan dibuka kesempatan untuk mengikuti TOEIC yang sesungguhnya yang diselenggarakan penyelenggara resmi TOEIC dan TOEFL se-Indonesia. Kala itu salah seorang siswa mendapatkan nilai tertinggi kalau tidak salah untuk wilayah Jawa atau mana ya, lupa, sampai-sampai dia mendapatkan award dari sekolah. Saya, hanya berkesempatan mengikuti 1 kali TOEIC Nasional, nilainya sama persis dengan siswa tadi. Di kesempatan kedua saya jatuh sakit pasca lomba, jadi tidak ikut lagi, dan siswa tadi mendapatkan nilai tertinggi.

Saya apresiasi juga untuk usaha sekolah saat itu dalam menggali potensi hampir sebagian besar siswa. Setiap siswa yang dinilai berprestasi, dipilih untuk mewakili sekolah mengikuti ajang kompetisi. Bukan hanya dilihat dari nilai semata ya, karena saat itu sekolah kami tidak menganut sistem ranking. Tapi salah satunya dari keberanian siswa untuk tampil aktif.

Saya sendiri pernah mewakili sekolah dalam ajang Cerdas Cermat Bahasa Indonesia tingkat sekolah se kotamadya Bogor. Baru masuk semifinal sudah kalah. Hahaha. Sepertinya sih sudah kalah telak dengan anak-anak dari SMU. Ini mungkin salah satu kekurangan anak-anak SMK, kurang dalam penguasaan ilmu umum. Karena anak-anak SMK lebih fokus pada keilmuan praktek sesuai jurusannya masing-masing.

Kalau lihat penguasaan kompetensi, saya yakin anak-anak SMU akan kalah dengan anak-anak SMK. Saya, bersama 3 orang teman lainnya mewakili sekolah dalam ajang Lomba Kompetensi Siswa SMK Tingkat Propinsi Jawa Barat di Bandung. Saya tentu saja mewakili sekolah sebagai peserta untuk jurusan Sekretaris. Saya tahu saya tidak akan menang. Ah sudah pesimis di awal.. Tapi tenang saja, salah seorang teman saya menang untuk jurusan Akuntansi. Dia lolos sampai ke tingkat Nasional. Apa saja yang dilombakan? Saya tidak tahu persis untuk jurusan lain ya, saya hanya mengingat soalan jurusan saya. Yang pasti pengarsipan, surat menyurat dan terakhir adalah presentasi dalam Bahasa Inggris. Wow ini yang membuat saya minder. Waktu di tingkat Kotamadya sama juga ada sesi presentasi dalam Bahasa Inggris, tapi pelaksanaan lomba tingkat Kotamadya ya di sekolah saya, jadi saya merasa lebih rileks. Ketika di Bandung, saya betul-betul tegang.

Betul, saya tidak masuk dalam 3 besar. Pulang dalam keadaan lelah, dan setelah itu saya drop. Tapi pengalaman di hari itu saya ingat terus sampai saat ini. Saya merasakan bagaimana menghadapi momen besar berkompetisi. Yang kemudian saya juga berkompetisi lagi di masa kuliah (diceritakan nanti InsyaAllaah).

Itulah yang saya ingat mengenai pengalaman saya selama menjadi siswi SMK. Saya acung jempol untuk almamater saya, SMK N 1 Bogor. Saya tidak tahu bagaimana keadaan di sana sekarang. Banyak cinta dari ibu guru saya di sana. Ada yang memotivasi saya pertama kali, ada yang memberikan baju untuk saya kenakan saat perlombaan, ada yang selalu memberikan nilai-nilai bagus kepada saya. Padahal saya ini ngga pinter-pinter amat. Alhamdulillaah, saya berdoa semoga mereka mendapatkan balasan kebaikan yang berlimpah dari Allaah.

Sekarang, saya pikir mungkin saya tidak akan sampai pada titik ini jika saya tidak masuk ke sekolah kejuruan. Saya di sana lebih diarahkan, kemudian diberi kesempatan dan belajar banyak tidak hanya soal pelajaran di bangku sekolah, tapi juga bagaimana berhadapan dengan banyak orang, berkompetisi dan tergabung dalam kegiatan-kegiatan lain di luar kelas. Masuk SMK juga bukan berarti tidak bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Saya mungkin tidak mengalami seleksi semacam UMPTN yang ujiannya kebanyakan diambil dari mata pelajaran siswa SMU dan sifatnya nasional. Saya masuk PTN melalui seleksi PMDK alias dari penilaian raport dan rekomendasi dari pihak sekolah. Tapi ada salah seorang sahabat dekat saya yang berhasil lolos UMPTN (SPMB) ke UNPAD (Univ Padjadjaran - Bandung). Hebat kan, anak SMK juga bisa bersaing kalau memang mau sungguh-sungguh belajar.

Saya berani bilang kalau sekolah kejuruan itu bagus. Disiplin. Tapi ya mungkin tergantung sekolahnya juga ya... Yang pasti, Bravo SMK N 1 Bogor !!!

Jumat, 09 Mei 2014

Traffic 50 ribuan

Cibubur, 09 Mei 2014

Sempet kaget juga, traffic blog ini smp ke angka 50 ribuan, dengan 19 follower blogger, seneng, ngga nyangka...

Usia blog ini sekitar 5 tahunan.  Dulu blog ini sama sekali tidak menarik. Sekitar tahun 2012 saya belajar men-design blog (otodidak), jadilah tampilannya seperti ini. Lumayan kan? Hehe...

Udah saya sampein kan, blog ini awalnya dibuat sebagai pendukung kegiatan mengajar mata kuliah entreprenurship di salah satu PTS di Bandung. Cerita lama memang. Sekarang saya menjelma menjadi seorang ibu rumah tangga dengan seorang putra.

Masih membantu mengelola bisnis suami di bagian keuangan dan administrasi, tapi rasanya tugasnya sudah mulai berkurang karena Alhamdulillah sudah banyak yang ikut membantu.

Kegiatan saat ini lebih banyak menuntut ilmu agama. Ikut program tahsin-tahfidz dan terjemah al-Qur’an serta menjadi salah satu mahasiswi di Islamic Online University (IOU).

Di IOU sebetulnya ada juga jurusan Ekonomi Islam, lebih nyambung dengan latbel saya dari Manajemen (Ekonomi). Tapi untuk jurusan Ekonomi Islam baru dibuka program S1 nya, saat ini saya ambil program pesetaraan menuju Master of Art di bidang Studi Islam. Mungkin nanti kalau dibuka program Master di bidang Ekonomi Islam atau *mudah-mudahan ada Manajemen Islami -- saya mau juga ambil.

Sambil mengasuh bayi usia 4 bulan. Semoga blog ini masih terus aktif ya....


Terimakasih untuk teman-teman blogger yang sudah mampir ke blog sederhana ini. 

Terimakasih banyak, walaupun belum saling mengenal tapi sudah membuat saya semangat... ^^

Jumat, 10 Januari 2014

Gadai Emas (Dinar) di BJB Syariah



Saya termasuk yang terlambat tahu tentang informasi berkebun emas. Dengar-dengar banyak yang berhasil meraup keuntungan dengan menjalankan konsep berkebun emas yang tutorialnya banyak disebarkan di internet. Saya kurang begitu faham mengenai detailnya, tapi yang jelas dalam berkebun emas melibatkan sistem gadai emas yang ditawarkan kebanyakan bank syariah. Tapi, belakangan konsep ini sudah mulai ditinggalkan karena bank mengganti kebijakannya dalam sistem gadai emas.

Saya tidak terpengaruh dengan berubahnya kebijakan bank dalam mengatur sistem gadai emas. Saya tetap tertarik untuk berinvestasi di emas terutama sebagai bentuk investasi jangka panjang. Dan di tahap awal saya memilih jenis koin emas dinar.

Setelah terkumpul beberapa dinar, saya ingin mencoba untuk memutar dana investasi saya yang akan digunakan sebagai dana tambahan usaha. Dan lagi, sekalian menitip koin emas saya di bank, jauh lebih aman insyaAllah. Saya mencari informasi seputar gadai emas di internet. Setelah dibanding-bandingkan, pilihan saya jatuh pada penawaran gadai emas dari Bank Jabar Banten Syariah.

Saya langsung mendatangi BJB Syariah terdekat dan mencoba menggadai koin emas dinar yang saya bawa. Prosesnya sederhana, emas yang akan digadai terlebih dahulu ditaksir oleh pejabat bank. Selanjutnya dijelaskan mengenai rincian harga taksiran beserta biaya pemeliharaan.

Di BJB Syariah masa gadai yaitu selama 4 bulan dan dapat diperpanjang 4 bulan berikutnya dengan hanya membayar biaya pemeliharaannya saja. Jadi, kalau sudah jatuh tempo 4 bulan sementara nasabah belum memiliki kesanggupan untuk membayar pokok pinjaman, bank memberi kelonggaran waktu sampai 4 bulan berikutnya dengan syarat membayar biaya pemeliharaan untuk 4 bulan berikutnya. Dan pembayaran biayanya ini bisa langsung dengan mendebit dana yang tersimpan dalam rekening nasabah tersebut. Selanjutnya, jika ingin menggadai emasnya kembali, bisa dilakukan dengan memperbaiki akad gadai. Jadi memungkinkan untuk melakukan transaksi gadai berulang kali dengan menggunakan objek emas yang sama.

Sebagai persyaratan awal nasabah diminta untuk membuka rekening BJB Syariah. Saya memilih tabungan dengan sistem mudhorobah (dengan bagi hasil yang telah ditentukan bank) daripada sistem wadiah (sistem titipan), dan kedua jenis tabungan ini tidak dikenakan biaya bulanan. Membuka tabungan bisa dengan dana hasil gadai. Hanya kekurangannya masih belum terintegrasi dengan pelayanan internet banking.

Prosesnya sangat mudah, dana gadai dinar saya langsung dapat dicairkan saat itu juga. Dan saya mendapatkan sertifikat mitra emas ib maslahah BJB Syariah sebagai bukti akad gadai emas (dinar) milik saya pada BJB Syariah.

Total dana gadai yang diterima yaitu 90 % dari harga taksiran bank dikurangi biaya pemeliharaan selama 4 bulan dan biaya materai.

Rabu, 18 Desember 2013

Mencari Peluang Penghasilan Tambahan untuk Ibu Rumah Tangga


Pertama membuat blog ini adalah saat di mana saya memulai pengabdian saya sebagai seorang pengajar mata kuliah Entrepreneurship di sebuah PTS di Kota Kembang. Kampus tempat saya mengajar memang tidak besar, tapi pengalaman mengajar di sana tidak akan pernah saya lupakan. Setelah menikah saya merasakan betapa mungkin kesempatan mengajar seperti dulu tidak lagi mudah saya dapatkan.

Seperti saya ceritakan di setiap tulisan saya, semenjak menikah fokus saya adalah membantu usaha suami. Terutama untuk masalah pengelolaan keuangan dan administrasi. Perlahan-lahan saya mencoba juga untuk ambil bagian di bidang marketingnya.

Dari awal pernikahan sampai sekarang masuk usia pernikahan yang ke-3 masih sama, hanya saja dulu memang saya lebih concern untuk urusan keseharian perusahaan. Sementara sekarang, lebih ringan karena sudah lebih banyak yang membantu. Selain itu, sekarang saya tengah mempersiapkan diri menjadi seorang ibu. Setelah tahun-tahun penantian, saya bersyukur diberi kepercayaan yang besar untuk mengandung, melahirkan dan mendidik anak dari rahim saya sendiri.

Dalam 2 tahun ke belakang, sebagai sampingan, saya mengelola toko online di bidang herbal dan juga sebuah blog sederhana yang menawarkan jasa umroh backpacker itikaf Ramadhan. Untuk toko online herbalnya terpaksa saya tutup karena sudah sepi pengunjung. Saya berjuang membuat toko itu. Dari yang tidak mengerti apa-apa tentang membuat website, sampai akhirnya bisa memodifikasi sedikit-sedikit. Sementara blog umroh backpackernya masih saya close, sampai nanti ada event lagi insyaAllah.

Hufft, bisa dibilang saya sedang mengalami yang namanya gulung tikar. Lesu....

Tapi saya bersyukur, memiliki blog ini. Setiap hari ada saja yang berkunjung. Beberapa di antaranya ada juga yang memberi komentar di artikel yang saya posting. Mereka, para sahabat maya ini menjadi penghibur dan juga penyemangat bagi saya.

Saat masih kuliah saya memiliki impian untuk meneruskan studi saya sampai menjadi guru besar di bidang Manajemen. Ketika mendapat amanah mengajar bidang Entrepreneurship di PTS, saya terus menyusun strategi agar dapat melanjutkan studi dan memperdalam ilmu Manajemen. Tapi ketika sudah menikah, saya harus mengutamakan hal lain. Bukan berarti impian melanjutkan studi itu sirna, masih tetap hidup, tapi mungkin ketika kesempatan itu datang, saya ingin memprioritaskan bidang ilmu agama, agar saya bisa mendidik anak-anak saya dengan sempurna.

Blog ini tetap akan saya hidupkan, walaupun amat jarang saya menulis di sini. Karena pada dasarnya saya menyukai dunia bisnis.

Saya iri melihat ibu-ibu rumah tangga yang belakangan ini ramai berjualan aneka macam kebutuhan sehari-hari di media sosial. Sebut saja di facebook dan komunitas Blackberry. Mulai dari pakaian (pakaian muslimah, pakaian anak-anak juga pakaian dalam dan lingerie), perlengkapan bayi sampai pada snack alias makanan ringan ada semua yang menjual. Mereka semua tampil profesional. Saya tidak bisa seperti itu. Lantaran kemarin ketika memutuskan membuka toko online pun saya hanya menjual apa yang suami saya jual, jadi tidak punya modal untuk menjual barang-barang lain.

Tapi semua itu tidak lantas membuat saya bersedih, sekarang saya akan sedikit berbagi tentang kegiatan usaha yang bisa menjadi alternatif sebagai lahan sampingan bagi ibu rumah tangga yang tidak punya banyak kesempatan untuk memasarkan barang/jasa.  Sederhana saja, yaitu dengan ber-investasi.

Langkah awal saya dalam memulai kegiatan investasi adalah dengan menggabungkan sedikit dana yang saya miliki pada usaha yang dikelola oleh ibu saya. Toko kecil saja, tapi omzetnya alhamdulillah mengalir terus. Setelah itu saya mencoba keberuntungan dengan me-reseller madu. Saya hanya membeli, untuk urusan menjual saya serahkan pada orang lain.

Sekarang suami saya melakukan trading forex dan emas sebagai usaha sampingan. Lumayan juga hasilnya. Saya berpikir untuk melakukan hal yang sama. Tapi rasanya belum bisa mengejar dana awal untuk membuka akun sendiri. Mungkin untuk sementara saya nebeng dulu di akun suami. Jadi profitnya nanti bisa dibagi.

Nah, itu di antara kegiatan usaha yang bisa jadi pilihan ibu rumah tangga. Selebihnya bisa fokuskan waktu, tenaga dan pikiran untuk benar-benar mengurus suami dan anak-anak. :)


* Terimakasih untuk para sahabat blogger dan pengguna internet yang sudah bersedia mampir ke blog sederhana ini. Membaca artikel dan juga memberi komentar.  

Senin, 09 September 2013

Menghadapi Kegagalan


Latar belakang saya adalah sarjana ekonomi di bidang Manajemen. Konsentrasi yang saya ambil saat menyusun skripsi adalah Manajemen Keuangan.  Pertimbangan saya memilih konsenstasi keuangan bukanlah karena keinginan mendalami ilmunya, tapi lebih karena saat itu yang memilih konsentrasi tersebut hanya satu-dua orang saja, sehingga saya merasa tertantang untuk menyajikan sesuatu yang berbeda.

Kecenderungan saya dalam memilih bidang keilmuan muncul justru ketika saya sudah menamatkan studi saya. Saya diberi kesempatan mengajar dan saya memilih untuk mengambil bidang Manajemen Kewirausahaan. Saya tidak menyadarinya, ternyata saya sangat menyukai ilmu ini, padahal ketika kuliah saya sempat mencoba langsung menuangkan ide berbisnis kecil-kecilan dengan kedua orang teman saya. Hanya berjualan kerudung, buku dan makanan ringan.

Walaupun bakat berdagang saya biasa-biasa saja, saya mencoba untuk tetap percaya diri. Berwirausaha yang saya lakukan sejak dulu baru tahap berdagang kecil-kecilan. Sampai saya menikah, saya tetap membangun impian saya berwirausaha. Tapi via online. Dan saya hanya berjualan produk yang berhubungan dengan usaha suami saya. Di akhir tahun 2011 saya membuka toko herbal online. Selain memasarkan produk milik suami, saya juga bekerjasama dengan beberapa produsen herbal. Ada rasa bangga, bisa menjalin kerjasama langsung dengan mereka. Tapi menurut saya itu belum seberapa, karena setelah itu toko herbal online semakin menjamur. Toko saya sepertinya hanya diramaikan oleh traffick. Untuk omzet, rasanya belum bisa diharapkan.

Di tahun 2012, suami saya mulai concern di bidang pelayanan umroh. Saya ikut menjual jasa umroh via online. Yang saya tawarkan adalah konsep umroh backpacker itikaf. Saya membuat blog sederhana dan memasang iklan di sana-sini. Selama satu tahun blog saya terpajang di internet dan Alhamdulillah banyak yang berminat. Saya senang karena saya juga berharap bisa ikut berangkat bersama-sama rombongan itikaf di haramain selama bulan Ramadhan.  Antusias calon jamaah luar biasa, apalagi ketika mendekati bulan keberangkatan. Karena permintaan jamaah, maka jadwal keberangkatan dibagi dua. Sebagian berangkat di awal Ramadhan untuk program full Ramadhan, dan selebihnya berangkat di pertengahan Ramadhan untuk program Lailatul Qadar. Saya senang, ketika visa masuk dan tiket penerbangan ke Saudi sudah di tangan, saya berpikir inilah hasil kerja keras saya selama satu tahun terakhir. Saya akan berangkat bersama-sama rombongan menuju dua kota suci untuk berumroh dan itikaf di dua masjid haram selama bulan Ramadhan.

Namun, ada sesuatu yang terjadi di luar dugaan.  Perjalanan saya dan rombongan pertama terganggu dengan adanya ulah oknum yang tidak bertanggungjawab. Bukan hanya jamaah, saya pun merasa sangat kecewa.

Ujian berikutnya datang kemudian, yaitu rombongan jamaah yang rencananya berangkat di pertengahan Ramadhan tidak berhasil mendapatkan visa masuk Saudi. Jumlah jamaah yang rencananya berangkat di pertengahan Ramadhan jumlahnya sekitar 2x dari jumlah jamaah di awal Ramadhan. Saya merasa sangat sedih. Tapi juga merasa tenang karena berada di Masjidil Haram kala itu. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Yang ada dalam pikiran saya adalah saya telah gagal. Untuk kesekian kalinya saya gagal mencapai keberhasilan yang diharapkan dari impian saya.

Setelah itu saya bertekad tidak akan lagi berpikir tentang ide-ide apapun. Saya tidak ingin lagi terlalu bersemangat. L

Tapi ada satu hal, blog ini, yang saya buat sekitar 4 tahun yang lalu yang isinya tentang inspirasi berwirausaha masih terus hidup, jumlah pengikut dan trafficnya terus bertambah. Sangat menghibur. Saya tidak menyangka, ternyata tulisan saya ini ada yang membaca. Padahal siapa saya. Saya bukan pakar wirausaha, apalagi praktisi wirausaha yang sukses. Saya juga tidak sedang mendalami ilmu wirausaha di universitas manapun. Sekarang saya hanyalah ibu rumah tangga yang lebih banyak membantu mengelola usaha suami. Membuat saya jadi terharu dan tiba-tiba semangat itu muncul kembali.

Mungkin, yang salah dari saya selama ini adalah karena saya selalu berpindah-pindah bidang saat memutuskan untuk berbisnis. Sejak sekitar 10 tahunan yang lalu suami saya sudah mulai merintis usaha di bidang haji reguler, herbal, dan terakhir difokuskan bidang umroh dan haji khusus. Karena fokus di bidang-bidang tadi, sekarang beliau memiliki wawasan yang luas untuk bidang herbal, umroh dan haji khusus. Sementara saya, terlebih dengan keterbatasan yang ada untuk saat ini, belum memiliki bidang khusus yang bisa saya geluti.

Sekarang, saya hanya ingin berbagi itu saja dulu, mudah-mudahan bisa bermanfaat. Sekarang saya akan menikmati masa-masa pengabdian sebagai asisten suami. Sambil tetap menjaga semangat mencari inspirasi berwirausaha... :) 

Minggu, 09 Desember 2012

Mengawali Bisnis dengan Sesuatu yang Ada di Sekitar Kita



Beberapa orang mengawali bisnisnya dari sekedar hobi. Lama kelamaan menjadi sumber penghasilan. Hobi berkreasi membuat kue, Rosidah Widya Utami, kini sukses mengembangkan bisnis pembuatan donat dengan brand Donat Kampung Utami (DKU). Omzetnya dalam sebulan mencapai ratusan juta. Usaha ini, diawali dari bisnis skala kecil-kecilan di Jombang, Jawa Timur. Utami pertama kali merintis bisnis tahun 2001. Sebagai jajanan kampung, saat itu donatnya dijual dengan harga Rp 500 per buah.

Ia memulai dengan peralatan rumah tangga seadanya dan menitipkan donatnya ke sekolah-sekolah. Berkat kegigihannya membesarkan usaha, kini donat Utami sudah dikenal di berbagai wilayah Indonesia. Bahkan, donatnya sudah kesohor hingga ke luar negeri. Tentu bukan lagi jajanan kampung, donat buatan Utami kini masuk kategori premium. Rasanya tak kalah dengan donat kelas mal dengan harga lebih terjangkau, Rp 4000 per buah. (www.peluangusaha.kontan.co.id , 04/09/12).

Berawal dari hobi menjahit serta membuat sendiri pakaian untuk anak-anaknya, Fina, pemilik usaha kerajinan kain berupa pernak-pernik rumah dengan merek De Fafas berhasil mengembangkan usaha kecil-kecilannya menjadi bisnis dengan 11 orang karyawan serta keuntungan hingga 80 juta rupiah per bulan (www.usahakecilmodalkecil.com, 21/06/12).

Selain dari hobi, ada juga yang memulai bisnis dengan memilih suatu bidang bisnis karena diawali desakan kebutuhan. Salah satu pembuat susu instan dari kambing PE adalah kelompok wanita tani  “Anjani” Desa Tlogoguwo Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Ketua kelompok wanita tani “Anjani”, B Suwarti (41), mengisahkan bahwa memelihara kambing PE sudah bagian dari kehidupan masyarakat Desa Tlogoguwo sejak puluhan tahun silam secara turun temurun dari nenek moyangnya.

Memelihara kambing PE awalnya hanya untuk diambil anaknya sebagai bibit untuk dijual. Disamping itu untuk dimanfaatkan kotorannya sebagai pupuk organik. Dengan semakin tingginya permintaan kambing PE dan pupuk organik, masyarakat setempat yang memlihara kambing PE bisa mencukupi kebutuhan keluarganya.

Seiring perkembangan teknologi yang diimbangi peningkatan kebutuhan hidup masyarakat, munculah ide baru untuk memanfatkan susunya sebagai konsumsi manusia. Dikisahkan, saat itu sekitar tahun 1986 keluarganya didera masalah keuangan rumah tangga. Untuk mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari sangat sulit, apalagi membeli susu untuk kedua anaknya. Padahal saat itu kedua anaknya masih balita, yang mebutuhkan susu untuk pertumbuhan.

Berawal hanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga sendiri, kemudian berkembang pemikiran apa salahnya bila diproduksi untuk orang lain, sekaligus sebagai lahan bisnis menambah pengasilan keluarga. Akhirnya sekitar tahun 2006, diproduksi dengan skala lebih besar (www.purworejokab.go.id, 05/03/12).

Dan beberapa kisah sukses wirausaha lain berangkat dari latar belakang yang berbeda-beda. Hobi yang ditekuni bisa mengantarkan seseorang meraih kematangan usaha. Desakan kebutuhan sehari-hari bisa menjadi pendorong seseorang memanfaatkan hal-hal yang ada di sekitarnya, kemudian menjadi barang yang bernilai jual.

Membuka usaha sendiri atau menjadi pekerja adalah sebuah pilihan. Ketika telah memilih untuk berwirausaha, cobalah untuk melihat peluang di sekitar kita. Pergunakan sesuatu yang ada di sekitar kita, tidak terbatas pada modal berupa materi. 

Akan terasa sangat sulit jika mencoba menganalisa kebutuhan pasar dengan berbekal teori semata. Memang betul, bisnis itu, ilmu yang dikombinasi dengan seni, tidak saklek, tapi fleksibel. Yang baku hanya prinsipnya, bagi seorang Muslim, wajib menundukkan segalanya kepada hukum Islam.







Minggu, 25 November 2012

Optimis !


Sikap optimis, saya rasa dibutuhkan bukan hanya oleh seorang entrepreneur. Semua orang, apapun profesinya, dalam hal kebaikan harus selalu optimis.


Saya telah menyaksikan beberapa orang teman memperoleh kemenangan dari hasil sikap optimis selama menggapai yang dicita-citakan. Saya salut dengan mereka, karena untuk bisa selalu bersikap optimis tidak mudah. Saya sendiri sempat mengalami keterpurukan ketika gambaran masa depan tidak nampak secara jelas.

Beberapa bulan menjelang sidang skripsi saya bergabung sebagai relawan koperasi desa tempat saya tinggal.  Niat awal sekedar mencari kegiatan, karena di kampus hanya tinggal bimbingan skripsi dan sudah lepas dari organisasi kemahasiswaan. Ternyata walau kedudukan saya hanya sebagai relawan di sana, saya diberikan insentif. Jumlahnya tidak banyak, hanya 225 ribu per bulan. Namun dalam hati selalu mengharapkan jatah di setiap awal bulan. Uangnya bisa saya pergunakan untuk ongkos bolak-balik hunting sumber rujukan di beberapa perpustakan untuk bahan menyusun skripsi saya, begitu pikiran saya. Saya pun tidak masalah ketika harus potong gaji lantaran uang koperasi hilang entah kemana, pernah hilang 50 ribu, pernah juga hilang 100 ribu. Ukuran yang besar untuk saya. Saya tidak mengerti, memang banyak yang bilang di desa saya banyak yang menjalankan praktek berbau klenik. Saya sedang futur waktu itu, jadi mungkin penjagaan dirinya kurang.

Bidang kegiatan saya adalah keuangan, adapun job desc saya kala itu adalah menjadi asisten Unit Pelaksana Keuangan untuk urusan administrasi pembukuan. Sehari-harinya saya bertugas stand by di kantor koperasi sesuai jadwal yang diberikan. Dalam 1 minggu, saya diberikan jadwal piket 3 hari, masuk jam 8 dan pulang jam 1 siang.

Yang saya kerjakan begitu datang di pagi hari adalah membersihkan ruangan dan menyiapkan pemberkasan yang diperlukan untuk mencatat transaksi keuangan yang terjadi selama hari itu. Selama 5 jam, pekerjaan saya hanya menunggu anggota koperasi yang akan menyetor angsuran pinjaman atau yang mau menabung di koperasi.

Ketika ada transaksi, saya membuatkan slip masuk dan dicatat di cash flow harian. Ini menarik, karena saya belajar beberapa hal penting mengenai pembukuan di sini. Selama saya mempelajari akuntansi di SMEA dan beberapa SKS di bangku kuliah tidak mendapatkan praktek pembukuan sederhana yang efektif dan efisien. Sebenarnya saya menikmati pekerjaan saya. Namun lama kelamaan saya merasa jenuh. Ketika kantor sepi, saya hanya bertemankan komputer. Iseng-iseng menulis puisi sambil diiringi lagu-lagu Ebiet Biet A yang diputar berulang-ulang. Atau nge-game.….

Ketika datang jadwal rapat antar tokoh koperasi, saya senang karena terlihat antusiasme warga untuk hadir dan berpartisipasi. Saya tidak ada pikiran apa-apa. Saya senang saja ketika tahu kalau ada rapat para anggota rapat diberi insentif per orang 50 ribu.

Saya juga senang ketika ada pekerjaan tambahan seperti menyusun proposal ketika pemerintah akan mengeluarkan dana pengembangan di setiap desa. Saya tidak memikirkan apakah pekerjaan ini menguntungkan atau tidak, yang penting saya bisa membantu. Itu saja… Tapi, ketika dijanjikan bahwa kelak ketika dana dari pemerintah cair saya akan diberi insentif tambahan untuk pekerjaan-pekerjaan yang saya kerjakan, saya senang. Dan tentu saja berharap saya akan mendapatkan persenan lebih banyak daripada anggota lain, karena memang saya mengerjakan beberapa hal penting sendirian.

Dan ternyata saya terlalu muluk.  Pekerjaan yang saya kerjakan yang menurut saya paling banyak itu tidaklah seberapa dibandingkan dengan pekerjaan para tokoh masyarakat dalam menggalang kebersamaan masyarakat menggarap proyek pemerintah di lapangan. Walaupun saya tidak melihat kerasnya usaha mereka dalam mempersiapkan semuanya. Mungkin saat itu saya terlalu banyak berpikiran negatif, tapi saya syukuri saja, karena niat awalnya hanya untuk membantu… Tidak mengapa, Alhamdulillah jadi punya tambahan, lagi-lagi demi ongkos penyusunan skripsi.

Ketika ujian sidang sudah dekat, saya rasa saya harus lebih fokus mengurusi skripsi saya. Saya tidak ingin terlalu terlibat di koperasi desa, karena entah mengapa saya merasa terlalu diandalkan, jadi lama kelamaan menjadi beban. Ini tidak baik, karena pasti ke depannya saya akan merasa tidak nyaman. Saya putuskan untuk mengundurkan diri. Walaupun sebenarnya saya masih memerlukan tambahan pemasukan untuk menyelesaikan skripsi saya.

Tiba sidang skripsi saya bersyukur mendapatkan IPK tertinggi di antara teman-teman satu program studi. Bahkan untuk satu jurusan. Tapi saya sedih karena IPK saya sebetulnya turun, harusnya kalau sidangnya bisa lebih bagus nilai IPK saya bisa lebih tinggi lagi, mungkin bisa tertinggi se-kampus. Saya akui, sebenarnya saya kurang sungguh-sungguh dalam bersyukur… Saya masih menyesal karena terlalu idealis dalam menyusun skripsi sehingga tidak memperhatikan benar teori apa saja yang saya kutip di skripsi saya. Bayangkan, untuk mendefinisikan 1 istilah saja saya mengambil teori dari beberapa buku. Saking banyaknya, saya bahkan tidak ingat untuk menghapal satu di antaranya. Saya berpikir ketika presentasi sidang, saya akan banyak membuka skripsi, tapi ternyata ketika sidang saya diminta untuk menutup skripsi saya dan diberi waktu presentasi hanya sekitar 5 menit, tanpa penjelasan bertele-tele. Yang ada semua blank, 6 bulan bolak-balik perpustakaan hasilnya jauh dari memuaskan. Saya hanya memperoleh nilai B untuk skripsi saya, padahal saya berharap nilainya A, kalau bisa A+, hehe.  Saya PD karena banyak rujukan yang saya kutip, judulnya pun up to date dan skripsinya tipis. Tapi ya bagaimana lagi, seorang calon sarjana S1 harus mengalah di hadapan para doktor dan kandidat doktor. Ketika hasilnya diumumkan saya menangis, bukan menangis terharu, tapi menangis sedih, saya teringat perjuangan ketika menyusun skripsi. Ibunda yang paling saya ingat, beliau menjadi sponsor utama dalam penyusunan skripsi saya.

Semua segera berlalu. Sampai tiba hari wisuda, saya tidak begitu gembira. Baju toga baru saya terima di hari H. Ngga semangat ikut gladi resik. Hari itu pun bagi saya biasa saja. Lagi-lagi saya tidak bersungguh-sungguh dalam bersyukur.

Selepas wisuda saya ditawari oleh seorang sahabat kakak saya untuk bekerja di pabrik tekstil dekat dengan rumah sebagai staff keuangan. Katanya gaji awalnya sekitar 2/3 juta. Saya tahu saya tidak akan tertarik. Tapi saya tidak enak untuk menolak, akhirnya saya datang untuk wawancara. Yang membuat saya sakit hati adalah sikap cuek dari orang yang katanya adalah bagian HRD itu. Ogah-ogahan ketika mewawancara. Dan dia memberitahu bahwa setiap yang bekerja di sana harus mengikuti semua aturan yang sudah dibuat. Termasuk tidak boleh mengenakan rok bagi perempuan. Saat itu saya mengenakan gamis. Saya bingung dan sedih. Saya berjanji untuk tidak menerima tawaran bekerja di sana. Berapapun besar gaji yang diberikan dan betapapun besar peluang untuk bisa diterima.

Setelah itu saya mencari informasi lowongan kerja di Koran daerah setiap hari Sabtu. Saya juga masukkan lamaran ke tempat-tempat yang membuka lowongan. Sempat saya dipanggil oleh sebuah radio swasta di Bandung untuk menjadi staff riset. Saya menjalani tes tulis, tapi tidak sampai wawancara. Mungkin saya memang tidak bakat jadi pe-riset. Saya juga pernah interview di sebuah perusahaan kontraktor, tapi tidak sampai diterima bekerja. Juga pernah meminta untuk dimasukkan lamaran sebagai dosen di sebuah PTS di Bandung ke salah seorang dosen yang mengajar di sana. Tapi gayung tidak bersambut. Saya juga yang bodoh, karena berharap pada orang yang tidak dikenal. Dan memang saya punya kelebihan apa sehingga begitu PD nya mengajukan lamaran menjadi dosen di sebuah PTS terkenal. Apalagi orang yang saya minta rekomendasinya itu punya juga anak yang baru lulus kuliah tapi tidak bisa dengan mudah melamar menjadi dosen. Saya jadi sedih, tapi tidak patah arang. Terus saya berusaha mencari peluang.

Sampai suatu hari saya diminta datang untuk presentasi dan wawancara di sebuah universitas swasta baru di Bandung. Saya senang bukan main. Tapi saya tidak tahu tema apa yang akan saya angkat sebagai bahan presentasi saya. Jam 3 dini hari saya putuskan memilih tema tentang membangun bisnis. Saya anggap tema ini paling mudah. Saya ambil bahan-bahannya dari buku Menggagas Bisnis Islami karya M. Ismail Yusanto dan M. Karebet Wijaya.

Ketika diberikan pilihan akan mengajar mata kuliah apa, saya pilih di antaranya adalah Manajemen, Entreprenurship, Innovation and Creativity dan beberapa mata kuliah yang berkaitan dengan Manajemen. Saya buka presentasi dengan sederhana, dan saya berusaha untuk tampil percaya diri.

Baru setelah sekitar 1 bulan saya dipanggil untuk mengajar. Saya hampir putus asa karena dijanjikan hanya menunggu kabar selama 3 hari, ternyata perlu waktu sampai 1 bulan kemudian. Tidak ada kontrak, saya diangkat menjadi tenaga pengajar part time..

Hari pertama saya berusaha untuk tidak nervous. Saya yakinkan kalau saya mampu menerima amanah ini. Yang membuat saya merasa kurang percaya diri yaitu ketika harus mengajar kelas karyawan yang mahasiswanya terdiri dari mayoritas bapak-bapak yang usianya jauh di atas saya. Saya hanya bisa menyampaikan teori. Karena secara praktek saya masih minim ilmu. Seharusnya saya lah yang banyak belajar dari mereka. Alhamdulillah mereka mau membantu saya. Saya pikir, seandainya universitas tersebut punya sedikit kemampuan meng-hire tenaga dosen yang sesuai pasti lah tidak akan merekrut saya sebagai tenaga pengajar J. Saya merasa sangat bersyukur diberi kesempatan.

Di semester kedua saya diberi amanah mengajar satu kelas yang sepengetahuan saya terdiri dari anak-anak muda yang sudah berpengalaman di dunia entrepreneur. Ketika saya masuk di kelas lain saya PD saja walaupun sering tidak dihiraukan lantaran kebanyakan jurusan yang saya pegang itu jurusan teknik yang mayoritas adalah mahasiswa dan mereka tidak cenderung untuk mempelajari ilmu entreprenurship. Tapi di kelas yang satu ini saya merasa sedikit minder.

Saya tidak membiarkan rasa minder mendominasi pikiran saya, karena sambil mengajar saya terus mencari-cari informasi mengenai seminar-seminar seputar bisnis. Saya yakin saya bisa. Sebenarnya saya berharap memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi saya, namun kesempatannya belum ada. Dan saya sedih karena kegiatan-kegiatan yang saya ikuti kebanyakan adalah gratis, sementara yang bayar saya tidak bisa ikut karena keterbatasan dana. Saya dibayar per SKS. Untuk menambah uang bulanan saya memutuskan untuk bekerja di tempat lain.  Saya melamar ke playgroup, ke universitas swasta lain dan terakhir ke lembaga kursus komputer. Di tempat terakhir ini saya diterima mengajar. Upahnya pun tidak seberapa. Dihitung per jam mengajar. Tapi saya menikmatinya, karena ambisi saya memang menguasai ilmu komputer, walaupun untuk materi yang paling mudah.

Mungkin kalau teman-teman saya tahu saya digaji sangat kecil, mereka akan heran mengapa saya mau menerima pekerjaan-pekerjaan itu. Saya pun tidak tahu mengapa saya begitu bahagia menjadi tenaga part timer. Saya bersyukur bisa mengajar di sebuah PTS. Saya melihatnya sebagai peluang. Entah peluang apa. Karena saya juga punya teman yang sama-sama menjadi dosen di PTS. Tapi profesinya sebagai dosen hanya sebagai sambilan. Pekerjaan utamanya adalah mengajar anak-anak di lembaga kursus. Dari tempat mengajar kursus dia menerima gaji lebih besar. Menurut saya dia tidak melihat kesempatan mengajar di PTS sebagai sebuah peluang yang berarti.  Mungkin karena terikat kontrak dengan lembaga kursus tempat dia mengajar, jadi dia tidak bisa mengutamakan pekerjaannya mengajar di PTS.

Saya berpikir pengalaman saya mengajar bisa dijadikan bekal mengajukan beasiswa S2. Saya sempat underestimate ketika seorang teman mengatakan dia bahkan sudah pernah berjumpa dengan pemilik universitas tempat saya mengajar. Saya merasa terlalu keras berjuang di kelas ecek-ecek. Tapi saya tidak punya pilihan yang lebih baik dari apa yang sedang saya kerjakan. Saya menjadi part-timer yang bebas. Dan saya tidak terikat kontrak.

Karena satu sebab, saya memutuskan untuk berhenti mengajar kursus komputer. Praktis penghasilan pun berkurang. Saya mengajukan beasiswa. Tapi belum berhasil.

Suatu saat kampus tempat saya mengajar mengajukan akreditasi. Tim akreditasi PTS datang ke kampus untuk memberi penilaian. Saya diundang untuk hadir sebagai perwakilan dosen mata kuliah entrepreneurship. Saya hanya bisa tersenyum, di antara dosen-dosen yang hadir saat itu, saya lah yang masih bau kencur. Saya berharap bisa segera melanjutkan S2.

Setelah masa 2 semester mengajar, saya ditawari untuk menjadi tenaga pengajar tetap. Saya senang bukan main. Tapi ada syarat, katanya saya harus terlebih dahulu melanjutkan studi. Saya bilang saja saya memang sedang mengajukan beasiswa, mudah-mudahan diterima.

Saya tidak yakin, apakah saya benar-benar akan mendapatkan beasiswa S2. Sampai ada peluang mengajar di sebuah yayasan di Bogor. Saya yakin di sana adalah jalan saya mengabdikan diri lebih jauh.

Sebetulnya tidak ada yang benar-benar saya sukai dari tempat mengajar saya yang baru kecuali satu hal, yaitu kesempatan menghafal al-Qur’an, yang tidak saya dapatkan selama ini. Ketika didaftarkan kuliah S2 dengan biaya dari yayasan saya tidak terlalu senang, karena sebenarnya saya sangat ingin melanjutkan kuliah setidaknya di universitas negeri, kalau tidak ke luar negeri, lebih keren…. Karena biayanya dari yayasan, saya tidak bisa menentukan sendiri di mana saya akan melanjutkan kuliah.

Setelah beberapa waktu saya baru tersadar, selama ini saya hanya mengejar ilmu dunia. Tidak sempat mempelajari ilmu al-Qur’an. Betapa malunya saya.

Saya tidak lagi berambisi untuk S2 untuk sementara waktu. Setelah menikah saya fokus membantu usaha suami. Waktunya saya mempraktekkan ilmu yang sudah saya pelajari semasa kuliah. Menyusun laporan keuangan, mengatur standar operasi kerja, membuat surat kontrak dan lain sebagainya.

Saya belajar banyak dari pekerjaan saya ini. Dan saya banyak mengamati kegiatan suami saya. Suami saya merintis usahanya dari nol. Latar belakang pendidikannya adalah Bahasa Arab. Sebelumnya sempat juga menjadi santri pondok pesantren tahfidz, pondok pesantren khusus program menghafal al-Qur’an. Untuk ilmu agama insyaAllah beliau dapat diandalkan. Dalam mencari nafkah awalnya beliau mengajar, tapi jiwa bisnisnya lebih kuat, sehingga sekitar lebih dari 10 tahun yang lalu beliau memutuskan membangun sebuah perusahaan.

Perusahaan yang dibangun hanya bertahan beberapa tahun, setelah itu beliau putuskan menjalankan usaha milik orang lain. Baru setelah kami menikah beliau membuka kembali aktivitas korporasinya yang sempat vakum.

Di tengah kesibukan saya, saya jadi teringat kembali impian melanjutkan studi. Betapa tidak, setiap hal yang saya kerjakan berkaitan dengan ilmu manajemen yang saya pelajari di bangku kuliah. Saya berpikir akan meneruskan mimpi melanjutkan S2.

Tidak banyak yang saya lakukan untuk mengisi waktu luang. Saya memanfaatkan betul fasilitas internet yang ada di kantor. Dan saya pun sudah punya modem. Setiap saat saya online. Saya mencari informasi tentang ini dan itu. Saya jadi ingin punya toko online untuk berjualan. Karena saya tahu, saya tidak mungkin berjualan seperti saat saya kuliah dulu. Saya tidak mungkin lagi menawarkan barang dagangan ke teman-teman saya, karena untuk bisa pergi keluar rumah saya harus ditemani mahram.

Dan saya terinspirasi oleh Khadijah ra, pebisnis perempuan yang menjalankan usahanya dari rumah. Khadijah ra mengutus Maisarah untuk membawa barang dagangannya ke Syam. Setelah itu meminta Rasulullah SAW yang kala itu belum menjadi suaminya untuk menjadi pimpinan kafilah dagangnya.

Saya melihat-lihat beberapa toko online. Saya minder. Karena tidak punya ilmu sama sekali untuk berjualan di internet. Yang saya punya adalah ilmu membuat blog sederhana yang diajarkan oleh sahabat saya. Akhirnya saya buat blog sederhana sebagai toko pertama saya. Saya tidak yakin akan ada pengunjung. Beberapa bulan kemudian datang pelanggan pertama. Setelah itu hampir tidak ada yang berkunjung.

Di penghujung tahun 2011 saya memutuskan untuk membeli domain dan membuat toko online betulan. Saya begadang hampir setiap malam. Saya minta rekomendasi nama. Suami saya mengusulkan www.grosirherbalsunnah.com, dan sekarang website itu sudah masuk tahun ke-2.

Kemudian beberapa bulan setelahnya saya membuat toko online kedua, menjual jasa travel umroh. Di toko saya yang kedua saya fokus menjual paket umroh hemat. Paket itikaf Ramadhan tanpa makan. Murah meriah. Ini alamatnya http://backpacker-umroh.blogspot.com.

Kalau saya flash back, saya suka senyum-senyum sendiri. Tidak akan pernah mengira saya akan menjadi seorang penjual online. Saya tidak suka berada di bawah tekanan. Dan saya optimis saya bisa memperoleh peluang untuk mengembangkan kemampuan saya. Meskipun jalannya berliku, tapi saya senang dengan semua yang sudah saya peroleh saat ini. Tinggal ke depannya saya akan mengatur untuk memperoleh hasil yang lebih baik lagi.

Saya amati penjual herbal online sudah menjamur. Saya sendiri adalah pemain baru. Tapi saya optimis. Saya menjalankan bisnis ini dengan berbekal sedikit pengetahuan mengenai keutamaan herbal dan pengobatan cara Nabi SAW.

Untuk umroh, saya melihat sekian banyak travel menjual jasa umroh. Tapi hanya beberapa yang menawarkan paket backpacker. Saya berharap program ini bisa berjalan dengan baik. Saya optimis bisa merebut pasar umroh hemat. Setelah umroh pertama, saya merasa rindu untuk dapat kembali ke sana. Ini bukan hal yang aneh, karena setiap peziarah al haramain pastilah pulang ke tanah air dengan memendam rasa rindu untuk bisa kembali berziarah ke sana. Berbekal rasa rindu itu saya berusaha agar dapat berangkat lagi ke sana. Orang pasti akan berkata, suami saya akan segera memberikan jatah untuk pergi kesana, karena suami saya adalah pemilik travel. Tapi usaha kami ini tergolong masih baru. Dan saya tidak ingin menunggu terlalu lama untuk diberangkatkan dengan gratis. Saya akan berusaha semaksimal mungkin.

Saya sangat yakin, ketika seseorang bersungguh-sungguh dalam kebaikan Allah SWT pasti akan membukakan kemudahan dari arah yang Ia kehendaki.


Site Search