Matahari Terbit

Selama matahari masih terbit dari timur dan tenggelam di barat, tiada kata berhenti untuk berjuang menggapai impian.

Rerumputan

Jadilah seperti rumput yang lemah gemulai, tak luruh walau dikungkung ribut. Jadilah seperti karang di dasar lautan, tak terusik walau dilanda badai.

Mercusuar

Bangunlah kepercayaan diri semaksmial mungkin. Jadilah seperti mercusuar yang kokoh berdiri di kegelapan dan mampu memberi cahaya bagi sekelilingnya.

Bunga Bermekaran

Jangan risaukan masa depan, tapi pikirkan bagaimana merancangnya dengan penuh keyakinan. Setiap datang kesulitan hari ini, esok pasti akan datang dua kemudahan.

Dunia sebagai sarana menggapai keridhaan Illahi

Genggam dunia dengan tangan kita, jangan biarkan dunia menguasai hati kita.

Jumat, 09 Mei 2014

Traffic 50 ribuan

Cibubur, 09 Mei 2014

Sempet kaget juga, traffic blog ini smp ke angka 50 ribuan, dengan 19 follower blogger, seneng, ngga nyangka...

Usia blog ini sekitar 5 tahunan.  Dulu blog ini sama sekali tidak menarik. Sekitar tahun 2012 saya belajar men-design blog (otodidak), jadilah tampilannya seperti ini. Lumayan kan? Hehe...

Udah saya sampein kan, blog ini awalnya dibuat sebagai pendukung kegiatan mengajar mata kuliah entreprenurship di salah satu PTS di Bandung. Cerita lama memang. Sekarang saya menjelma menjadi seorang ibu rumah tangga dengan seorang putra.

Masih membantu mengelola bisnis suami di bagian keuangan dan administrasi, tapi rasanya tugasnya sudah mulai berkurang karena Alhamdulillah sudah banyak yang ikut membantu.

Kegiatan saat ini lebih banyak menuntut ilmu agama. Ikut program tahsin-tahfidz dan terjemah al-Qur’an serta menjadi salah satu mahasiswi di Islamic Online University (IOU).

Di IOU sebetulnya ada juga jurusan Ekonomi Islam, lebih nyambung dengan latbel saya dari Manajemen (Ekonomi). Tapi untuk jurusan Ekonomi Islam baru dibuka program S1 nya, saat ini saya ambil program pesetaraan menuju Master of Art di bidang Studi Islam. Mungkin nanti kalau dibuka program Master di bidang Ekonomi Islam atau *mudah-mudahan ada Manajemen Islami -- saya mau juga ambil.

Sambil mengasuh bayi usia 4 bulan. Semoga blog ini masih terus aktif ya....


Terimakasih untuk teman-teman blogger yang sudah mampir ke blog sederhana ini. 

Terimakasih banyak, walaupun belum saling mengenal tapi sudah membuat saya semangat... ^^

Jumat, 10 Januari 2014

Gadai Emas (Dinar) di BJB Syariah



Saya termasuk yang terlambat tahu tentang informasi berkebun emas. Dengar-dengar banyak yang berhasil meraup keuntungan dengan menjalankan konsep berkebun emas yang tutorialnya banyak disebarkan di internet. Saya kurang begitu faham mengenai detailnya, tapi yang jelas dalam berkebun emas melibatkan sistem gadai emas yang ditawarkan kebanyakan bank syariah. Tapi, belakangan konsep ini sudah mulai ditinggalkan karena bank mengganti kebijakannya dalam sistem gadai emas.

Saya tidak terpengaruh dengan berubahnya kebijakan bank dalam mengatur sistem gadai emas. Saya tetap tertarik untuk berinvestasi di emas terutama sebagai bentuk investasi jangka panjang. Dan di tahap awal saya memilih jenis koin emas dinar.

Setelah terkumpul beberapa dinar, saya ingin mencoba untuk memutar dana investasi saya yang akan digunakan sebagai dana tambahan usaha. Dan lagi, sekalian menitip koin emas saya di bank, jauh lebih aman insyaAllah. Saya mencari informasi seputar gadai emas di internet. Setelah dibanding-bandingkan, pilihan saya jatuh pada penawaran gadai emas dari Bank Jabar Banten Syariah.

Saya langsung mendatangi BJB Syariah terdekat dan mencoba menggadai koin emas dinar yang saya bawa. Prosesnya sederhana, emas yang akan digadai terlebih dahulu ditaksir oleh pejabat bank. Selanjutnya dijelaskan mengenai rincian harga taksiran beserta biaya pemeliharaan.

Di BJB Syariah masa gadai yaitu selama 4 bulan dan dapat diperpanjang 4 bulan berikutnya dengan hanya membayar biaya pemeliharaannya saja. Jadi, kalau sudah jatuh tempo 4 bulan sementara nasabah belum memiliki kesanggupan untuk membayar pokok pinjaman, bank memberi kelonggaran waktu sampai 4 bulan berikutnya dengan syarat membayar biaya pemeliharaan untuk 4 bulan berikutnya. Dan pembayaran biayanya ini bisa langsung dengan mendebit dana yang tersimpan dalam rekening nasabah tersebut. Selanjutnya, jika ingin menggadai emasnya kembali, bisa dilakukan dengan memperbaiki akad gadai. Jadi memungkinkan untuk melakukan transaksi gadai berulang kali dengan menggunakan objek emas yang sama.

Sebagai persyaratan awal nasabah diminta untuk membuka rekening BJB Syariah. Saya memilih tabungan dengan sistem mudhorobah (dengan bagi hasil yang telah ditentukan bank) daripada sistem wadiah (sistem titipan), dan kedua jenis tabungan ini tidak dikenakan biaya bulanan. Membuka tabungan bisa dengan dana hasil gadai. Hanya kekurangannya masih belum terintegrasi dengan pelayanan internet banking.

Prosesnya sangat mudah, dana gadai dinar saya langsung dapat dicairkan saat itu juga. Dan saya mendapatkan sertifikat mitra emas ib maslahah BJB Syariah sebagai bukti akad gadai emas (dinar) milik saya pada BJB Syariah.

Total dana gadai yang diterima yaitu 90 % dari harga taksiran bank dikurangi biaya pemeliharaan selama 4 bulan dan biaya materai.

Rabu, 18 Desember 2013

Mencari Peluang Penghasilan Tambahan untuk Ibu Rumah Tangga


Pertama membuat blog ini adalah saat di mana saya memulai pengabdian saya sebagai seorang pengajar mata kuliah Entrepreneurship di sebuah PTS di Kota Kembang. Kampus tempat saya mengajar memang tidak besar, tapi pengalaman mengajar di sana tidak akan pernah saya lupakan. Setelah menikah saya merasakan betapa mungkin kesempatan mengajar seperti dulu tidak lagi mudah saya dapatkan.

Seperti saya ceritakan di setiap tulisan saya, semenjak menikah fokus saya adalah membantu usaha suami. Terutama untuk masalah pengelolaan keuangan dan administrasi. Perlahan-lahan saya mencoba juga untuk ambil bagian di bidang marketingnya.

Dari awal pernikahan sampai sekarang masuk usia pernikahan yang ke-3 masih sama, hanya saja dulu memang saya lebih concern untuk urusan keseharian perusahaan. Sementara sekarang, lebih ringan karena sudah lebih banyak yang membantu. Selain itu, sekarang saya tengah mempersiapkan diri menjadi seorang ibu. Setelah tahun-tahun penantian, saya bersyukur diberi kepercayaan yang besar untuk mengandung, melahirkan dan mendidik anak dari rahim saya sendiri.

Dalam 2 tahun ke belakang, sebagai sampingan, saya mengelola toko online di bidang herbal dan juga sebuah blog sederhana yang menawarkan jasa umroh backpacker itikaf Ramadhan. Untuk toko online herbalnya terpaksa saya tutup karena sudah sepi pengunjung. Saya berjuang membuat toko itu. Dari yang tidak mengerti apa-apa tentang membuat website, sampai akhirnya bisa memodifikasi sedikit-sedikit. Sementara blog umroh backpackernya masih saya close, sampai nanti ada event lagi insyaAllah.

Hufft, bisa dibilang saya sedang mengalami yang namanya gulung tikar. Lesu....

Tapi saya bersyukur, memiliki blog ini. Setiap hari ada saja yang berkunjung. Beberapa di antaranya ada juga yang memberi komentar di artikel yang saya posting. Mereka, para sahabat maya ini menjadi penghibur dan juga penyemangat bagi saya.

Saat masih kuliah saya memiliki impian untuk meneruskan studi saya sampai menjadi guru besar di bidang Manajemen. Ketika mendapat amanah mengajar bidang Entrepreneurship di PTS, saya terus menyusun strategi agar dapat melanjutkan studi dan memperdalam ilmu Manajemen. Tapi ketika sudah menikah, saya harus mengutamakan hal lain. Bukan berarti impian melanjutkan studi itu sirna, masih tetap hidup, tapi mungkin ketika kesempatan itu datang, saya ingin memprioritaskan bidang ilmu agama, agar saya bisa mendidik anak-anak saya dengan sempurna.

Blog ini tetap akan saya hidupkan, walaupun amat jarang saya menulis di sini. Karena pada dasarnya saya menyukai dunia bisnis.

Saya iri melihat ibu-ibu rumah tangga yang belakangan ini ramai berjualan aneka macam kebutuhan sehari-hari di media sosial. Sebut saja di facebook dan komunitas Blackberry. Mulai dari pakaian (pakaian muslimah, pakaian anak-anak juga pakaian dalam dan lingerie), perlengkapan bayi sampai pada snack alias makanan ringan ada semua yang menjual. Mereka semua tampil profesional. Saya tidak bisa seperti itu. Lantaran kemarin ketika memutuskan membuka toko online pun saya hanya menjual apa yang suami saya jual, jadi tidak punya modal untuk menjual barang-barang lain.

Tapi semua itu tidak lantas membuat saya bersedih, sekarang saya akan sedikit berbagi tentang kegiatan usaha yang bisa menjadi alternatif sebagai lahan sampingan bagi ibu rumah tangga yang tidak punya banyak kesempatan untuk memasarkan barang/jasa.  Sederhana saja, yaitu dengan ber-investasi.

Langkah awal saya dalam memulai kegiatan investasi adalah dengan menggabungkan sedikit dana yang saya miliki pada usaha yang dikelola oleh ibu saya. Toko kecil saja, tapi omzetnya alhamdulillah mengalir terus. Setelah itu saya mencoba keberuntungan dengan me-reseller madu. Saya hanya membeli, untuk urusan menjual saya serahkan pada orang lain.

Sekarang suami saya melakukan trading forex dan emas sebagai usaha sampingan. Lumayan juga hasilnya. Saya berpikir untuk melakukan hal yang sama. Tapi rasanya belum bisa mengejar dana awal untuk membuka akun sendiri. Mungkin untuk sementara saya nebeng dulu di akun suami. Jadi profitnya nanti bisa dibagi.

Nah, itu di antara kegiatan usaha yang bisa jadi pilihan ibu rumah tangga. Selebihnya bisa fokuskan waktu, tenaga dan pikiran untuk benar-benar mengurus suami dan anak-anak. :)


* Terimakasih untuk para sahabat blogger dan pengguna internet yang sudah bersedia mampir ke blog sederhana ini. Membaca artikel dan juga memberi komentar.  

Senin, 09 September 2013

Menghadapi Kegagalan


Latar belakang saya adalah sarjana ekonomi di bidang Manajemen. Konsentrasi yang saya ambil saat menyusun skripsi adalah Manajemen Keuangan.  Pertimbangan saya memilih konsenstasi keuangan bukanlah karena keinginan mendalami ilmunya, tapi lebih karena saat itu yang memilih konsentrasi tersebut hanya satu-dua orang saja, sehingga saya merasa tertantang untuk menyajikan sesuatu yang berbeda.

Kecenderungan saya dalam memilih bidang keilmuan muncul justru ketika saya sudah menamatkan studi saya. Saya diberi kesempatan mengajar dan saya memilih untuk mengambil bidang Manajemen Kewirausahaan. Saya tidak menyadarinya, ternyata saya sangat menyukai ilmu ini, padahal ketika kuliah saya sempat mencoba langsung menuangkan ide berbisnis kecil-kecilan dengan kedua orang teman saya. Hanya berjualan kerudung, buku dan makanan ringan.

Walaupun bakat berdagang saya biasa-biasa saja, saya mencoba untuk tetap percaya diri. Berwirausaha yang saya lakukan sejak dulu baru tahap berdagang kecil-kecilan. Sampai saya menikah, saya tetap membangun impian saya berwirausaha. Tapi via online. Dan saya hanya berjualan produk yang berhubungan dengan usaha suami saya. Di akhir tahun 2011 saya membuka toko herbal online. Selain memasarkan produk milik suami, saya juga bekerjasama dengan beberapa produsen herbal. Ada rasa bangga, bisa menjalin kerjasama langsung dengan mereka. Tapi menurut saya itu belum seberapa, karena setelah itu toko herbal online semakin menjamur. Toko saya sepertinya hanya diramaikan oleh traffick. Untuk omzet, rasanya belum bisa diharapkan.

Di tahun 2012, suami saya mulai concern di bidang pelayanan umroh. Saya ikut menjual jasa umroh via online. Yang saya tawarkan adalah konsep umroh backpacker itikaf. Saya membuat blog sederhana dan memasang iklan di sana-sini. Selama satu tahun blog saya terpajang di internet dan Alhamdulillah banyak yang berminat. Saya senang karena saya juga berharap bisa ikut berangkat bersama-sama rombongan itikaf di haramain selama bulan Ramadhan.  Antusias calon jamaah luar biasa, apalagi ketika mendekati bulan keberangkatan. Karena permintaan jamaah, maka jadwal keberangkatan dibagi dua. Sebagian berangkat di awal Ramadhan untuk program full Ramadhan, dan selebihnya berangkat di pertengahan Ramadhan untuk program Lailatul Qadar. Saya senang, ketika visa masuk dan tiket penerbangan ke Saudi sudah di tangan, saya berpikir inilah hasil kerja keras saya selama satu tahun terakhir. Saya akan berangkat bersama-sama rombongan menuju dua kota suci untuk berumroh dan itikaf di dua masjid haram selama bulan Ramadhan.

Namun, ada sesuatu yang terjadi di luar dugaan.  Perjalanan saya dan rombongan pertama terganggu dengan adanya ulah oknum yang tidak bertanggungjawab. Bukan hanya jamaah, saya pun merasa sangat kecewa.

Ujian berikutnya datang kemudian, yaitu rombongan jamaah yang rencananya berangkat di pertengahan Ramadhan tidak berhasil mendapatkan visa masuk Saudi. Jumlah jamaah yang rencananya berangkat di pertengahan Ramadhan jumlahnya sekitar 2x dari jumlah jamaah di awal Ramadhan. Saya merasa sangat sedih. Tapi juga merasa tenang karena berada di Masjidil Haram kala itu. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Yang ada dalam pikiran saya adalah saya telah gagal. Untuk kesekian kalinya saya gagal mencapai keberhasilan yang diharapkan dari impian saya.

Setelah itu saya bertekad tidak akan lagi berpikir tentang ide-ide apapun. Saya tidak ingin lagi terlalu bersemangat. L

Tapi ada satu hal, blog ini, yang saya buat sekitar 4 tahun yang lalu yang isinya tentang inspirasi berwirausaha masih terus hidup, jumlah pengikut dan trafficnya terus bertambah. Sangat menghibur. Saya tidak menyangka, ternyata tulisan saya ini ada yang membaca. Padahal siapa saya. Saya bukan pakar wirausaha, apalagi praktisi wirausaha yang sukses. Saya juga tidak sedang mendalami ilmu wirausaha di universitas manapun. Sekarang saya hanyalah ibu rumah tangga yang lebih banyak membantu mengelola usaha suami. Membuat saya jadi terharu dan tiba-tiba semangat itu muncul kembali.

Mungkin, yang salah dari saya selama ini adalah karena saya selalu berpindah-pindah bidang saat memutuskan untuk berbisnis. Sejak sekitar 10 tahunan yang lalu suami saya sudah mulai merintis usaha di bidang haji reguler, herbal, dan terakhir difokuskan bidang umroh dan haji khusus. Karena fokus di bidang-bidang tadi, sekarang beliau memiliki wawasan yang luas untuk bidang herbal, umroh dan haji khusus. Sementara saya, terlebih dengan keterbatasan yang ada untuk saat ini, belum memiliki bidang khusus yang bisa saya geluti.

Sekarang, saya hanya ingin berbagi itu saja dulu, mudah-mudahan bisa bermanfaat. Sekarang saya akan menikmati masa-masa pengabdian sebagai asisten suami. Sambil tetap menjaga semangat mencari inspirasi berwirausaha... :) 

Minggu, 09 Desember 2012

Mengawali Bisnis dengan Sesuatu yang Ada di Sekitar Kita



Beberapa orang mengawali bisnisnya dari sekedar hobi. Lama kelamaan menjadi sumber penghasilan. Hobi berkreasi membuat kue, Rosidah Widya Utami, kini sukses mengembangkan bisnis pembuatan donat dengan brand Donat Kampung Utami (DKU). Omzetnya dalam sebulan mencapai ratusan juta. Usaha ini, diawali dari bisnis skala kecil-kecilan di Jombang, Jawa Timur. Utami pertama kali merintis bisnis tahun 2001. Sebagai jajanan kampung, saat itu donatnya dijual dengan harga Rp 500 per buah.

Ia memulai dengan peralatan rumah tangga seadanya dan menitipkan donatnya ke sekolah-sekolah. Berkat kegigihannya membesarkan usaha, kini donat Utami sudah dikenal di berbagai wilayah Indonesia. Bahkan, donatnya sudah kesohor hingga ke luar negeri. Tentu bukan lagi jajanan kampung, donat buatan Utami kini masuk kategori premium. Rasanya tak kalah dengan donat kelas mal dengan harga lebih terjangkau, Rp 4000 per buah. (www.peluangusaha.kontan.co.id , 04/09/12).

Berawal dari hobi menjahit serta membuat sendiri pakaian untuk anak-anaknya, Fina, pemilik usaha kerajinan kain berupa pernak-pernik rumah dengan merek De Fafas berhasil mengembangkan usaha kecil-kecilannya menjadi bisnis dengan 11 orang karyawan serta keuntungan hingga 80 juta rupiah per bulan (www.usahakecilmodalkecil.com, 21/06/12).

Selain dari hobi, ada juga yang memulai bisnis dengan memilih suatu bidang bisnis karena diawali desakan kebutuhan. Salah satu pembuat susu instan dari kambing PE adalah kelompok wanita tani  “Anjani” Desa Tlogoguwo Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Ketua kelompok wanita tani “Anjani”, B Suwarti (41), mengisahkan bahwa memelihara kambing PE sudah bagian dari kehidupan masyarakat Desa Tlogoguwo sejak puluhan tahun silam secara turun temurun dari nenek moyangnya.

Memelihara kambing PE awalnya hanya untuk diambil anaknya sebagai bibit untuk dijual. Disamping itu untuk dimanfaatkan kotorannya sebagai pupuk organik. Dengan semakin tingginya permintaan kambing PE dan pupuk organik, masyarakat setempat yang memlihara kambing PE bisa mencukupi kebutuhan keluarganya.

Seiring perkembangan teknologi yang diimbangi peningkatan kebutuhan hidup masyarakat, munculah ide baru untuk memanfatkan susunya sebagai konsumsi manusia. Dikisahkan, saat itu sekitar tahun 1986 keluarganya didera masalah keuangan rumah tangga. Untuk mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari sangat sulit, apalagi membeli susu untuk kedua anaknya. Padahal saat itu kedua anaknya masih balita, yang mebutuhkan susu untuk pertumbuhan.

Berawal hanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga sendiri, kemudian berkembang pemikiran apa salahnya bila diproduksi untuk orang lain, sekaligus sebagai lahan bisnis menambah pengasilan keluarga. Akhirnya sekitar tahun 2006, diproduksi dengan skala lebih besar (www.purworejokab.go.id, 05/03/12).

Dan beberapa kisah sukses wirausaha lain berangkat dari latar belakang yang berbeda-beda. Hobi yang ditekuni bisa mengantarkan seseorang meraih kematangan usaha. Desakan kebutuhan sehari-hari bisa menjadi pendorong seseorang memanfaatkan hal-hal yang ada di sekitarnya, kemudian menjadi barang yang bernilai jual.

Membuka usaha sendiri atau menjadi pekerja adalah sebuah pilihan. Ketika telah memilih untuk berwirausaha, cobalah untuk melihat peluang di sekitar kita. Pergunakan sesuatu yang ada di sekitar kita, tidak terbatas pada modal berupa materi. 

Akan terasa sangat sulit jika mencoba menganalisa kebutuhan pasar dengan berbekal teori semata. Memang betul, bisnis itu, ilmu yang dikombinasi dengan seni, tidak saklek, tapi fleksibel. Yang baku hanya prinsipnya, bagi seorang Muslim, wajib menundukkan segalanya kepada hukum Islam.







Minggu, 25 November 2012

Optimis !


Sikap optimis, saya rasa dibutuhkan bukan hanya oleh seorang entrepreneur. Semua orang, apapun profesinya, dalam hal kebaikan harus selalu optimis.


Saya telah menyaksikan beberapa orang teman memperoleh kemenangan dari hasil sikap optimis selama menggapai yang dicita-citakan. Saya salut dengan mereka, karena untuk bisa selalu bersikap optimis tidak mudah. Saya sendiri sempat mengalami keterpurukan ketika gambaran masa depan tidak nampak secara jelas.

Beberapa bulan menjelang sidang skripsi saya bergabung sebagai relawan koperasi desa tempat saya tinggal.  Niat awal sekedar mencari kegiatan, karena di kampus hanya tinggal bimbingan skripsi dan sudah lepas dari organisasi kemahasiswaan. Ternyata walau kedudukan saya hanya sebagai relawan di sana, saya diberikan insentif. Jumlahnya tidak banyak, hanya 225 ribu per bulan. Namun dalam hati selalu mengharapkan jatah di setiap awal bulan. Uangnya bisa saya pergunakan untuk ongkos bolak-balik hunting sumber rujukan di beberapa perpustakan untuk bahan menyusun skripsi saya, begitu pikiran saya. Saya pun tidak masalah ketika harus potong gaji lantaran uang koperasi hilang entah kemana, pernah hilang 50 ribu, pernah juga hilang 100 ribu. Ukuran yang besar untuk saya. Saya tidak mengerti, memang banyak yang bilang di desa saya banyak yang menjalankan praktek berbau klenik. Saya sedang futur waktu itu, jadi mungkin penjagaan dirinya kurang.

Bidang kegiatan saya adalah keuangan, adapun job desc saya kala itu adalah menjadi asisten Unit Pelaksana Keuangan untuk urusan administrasi pembukuan. Sehari-harinya saya bertugas stand by di kantor koperasi sesuai jadwal yang diberikan. Dalam 1 minggu, saya diberikan jadwal piket 3 hari, masuk jam 8 dan pulang jam 1 siang.

Yang saya kerjakan begitu datang di pagi hari adalah membersihkan ruangan dan menyiapkan pemberkasan yang diperlukan untuk mencatat transaksi keuangan yang terjadi selama hari itu. Selama 5 jam, pekerjaan saya hanya menunggu anggota koperasi yang akan menyetor angsuran pinjaman atau yang mau menabung di koperasi.

Ketika ada transaksi, saya membuatkan slip masuk dan dicatat di cash flow harian. Ini menarik, karena saya belajar beberapa hal penting mengenai pembukuan di sini. Selama saya mempelajari akuntansi di SMEA dan beberapa SKS di bangku kuliah tidak mendapatkan praktek pembukuan sederhana yang efektif dan efisien. Sebenarnya saya menikmati pekerjaan saya. Namun lama kelamaan saya merasa jenuh. Ketika kantor sepi, saya hanya bertemankan komputer. Iseng-iseng menulis puisi sambil diiringi lagu-lagu Ebiet Biet A yang diputar berulang-ulang. Atau nge-game.….

Ketika datang jadwal rapat antar tokoh koperasi, saya senang karena terlihat antusiasme warga untuk hadir dan berpartisipasi. Saya tidak ada pikiran apa-apa. Saya senang saja ketika tahu kalau ada rapat para anggota rapat diberi insentif per orang 50 ribu.

Saya juga senang ketika ada pekerjaan tambahan seperti menyusun proposal ketika pemerintah akan mengeluarkan dana pengembangan di setiap desa. Saya tidak memikirkan apakah pekerjaan ini menguntungkan atau tidak, yang penting saya bisa membantu. Itu saja… Tapi, ketika dijanjikan bahwa kelak ketika dana dari pemerintah cair saya akan diberi insentif tambahan untuk pekerjaan-pekerjaan yang saya kerjakan, saya senang. Dan tentu saja berharap saya akan mendapatkan persenan lebih banyak daripada anggota lain, karena memang saya mengerjakan beberapa hal penting sendirian.

Dan ternyata saya terlalu muluk.  Pekerjaan yang saya kerjakan yang menurut saya paling banyak itu tidaklah seberapa dibandingkan dengan pekerjaan para tokoh masyarakat dalam menggalang kebersamaan masyarakat menggarap proyek pemerintah di lapangan. Walaupun saya tidak melihat kerasnya usaha mereka dalam mempersiapkan semuanya. Mungkin saat itu saya terlalu banyak berpikiran negatif, tapi saya syukuri saja, karena niat awalnya hanya untuk membantu… Tidak mengapa, Alhamdulillah jadi punya tambahan, lagi-lagi demi ongkos penyusunan skripsi.

Ketika ujian sidang sudah dekat, saya rasa saya harus lebih fokus mengurusi skripsi saya. Saya tidak ingin terlalu terlibat di koperasi desa, karena entah mengapa saya merasa terlalu diandalkan, jadi lama kelamaan menjadi beban. Ini tidak baik, karena pasti ke depannya saya akan merasa tidak nyaman. Saya putuskan untuk mengundurkan diri. Walaupun sebenarnya saya masih memerlukan tambahan pemasukan untuk menyelesaikan skripsi saya.

Tiba sidang skripsi saya bersyukur mendapatkan IPK tertinggi di antara teman-teman satu program studi. Bahkan untuk satu jurusan. Tapi saya sedih karena IPK saya sebetulnya turun, harusnya kalau sidangnya bisa lebih bagus nilai IPK saya bisa lebih tinggi lagi, mungkin bisa tertinggi se-kampus. Saya akui, sebenarnya saya kurang sungguh-sungguh dalam bersyukur… Saya masih menyesal karena terlalu idealis dalam menyusun skripsi sehingga tidak memperhatikan benar teori apa saja yang saya kutip di skripsi saya. Bayangkan, untuk mendefinisikan 1 istilah saja saya mengambil teori dari beberapa buku. Saking banyaknya, saya bahkan tidak ingat untuk menghapal satu di antaranya. Saya berpikir ketika presentasi sidang, saya akan banyak membuka skripsi, tapi ternyata ketika sidang saya diminta untuk menutup skripsi saya dan diberi waktu presentasi hanya sekitar 5 menit, tanpa penjelasan bertele-tele. Yang ada semua blank, 6 bulan bolak-balik perpustakaan hasilnya jauh dari memuaskan. Saya hanya memperoleh nilai B untuk skripsi saya, padahal saya berharap nilainya A, kalau bisa A+, hehe.  Saya PD karena banyak rujukan yang saya kutip, judulnya pun up to date dan skripsinya tipis. Tapi ya bagaimana lagi, seorang calon sarjana S1 harus mengalah di hadapan para doktor dan kandidat doktor. Ketika hasilnya diumumkan saya menangis, bukan menangis terharu, tapi menangis sedih, saya teringat perjuangan ketika menyusun skripsi. Ibunda yang paling saya ingat, beliau menjadi sponsor utama dalam penyusunan skripsi saya.

Semua segera berlalu. Sampai tiba hari wisuda, saya tidak begitu gembira. Baju toga baru saya terima di hari H. Ngga semangat ikut gladi resik. Hari itu pun bagi saya biasa saja. Lagi-lagi saya tidak bersungguh-sungguh dalam bersyukur.

Selepas wisuda saya ditawari oleh seorang sahabat kakak saya untuk bekerja di pabrik tekstil dekat dengan rumah sebagai staff keuangan. Katanya gaji awalnya sekitar 2/3 juta. Saya tahu saya tidak akan tertarik. Tapi saya tidak enak untuk menolak, akhirnya saya datang untuk wawancara. Yang membuat saya sakit hati adalah sikap cuek dari orang yang katanya adalah bagian HRD itu. Ogah-ogahan ketika mewawancara. Dan dia memberitahu bahwa setiap yang bekerja di sana harus mengikuti semua aturan yang sudah dibuat. Termasuk tidak boleh mengenakan rok bagi perempuan. Saat itu saya mengenakan gamis. Saya bingung dan sedih. Saya berjanji untuk tidak menerima tawaran bekerja di sana. Berapapun besar gaji yang diberikan dan betapapun besar peluang untuk bisa diterima.

Setelah itu saya mencari informasi lowongan kerja di Koran daerah setiap hari Sabtu. Saya juga masukkan lamaran ke tempat-tempat yang membuka lowongan. Sempat saya dipanggil oleh sebuah radio swasta di Bandung untuk menjadi staff riset. Saya menjalani tes tulis, tapi tidak sampai wawancara. Mungkin saya memang tidak bakat jadi pe-riset. Saya juga pernah interview di sebuah perusahaan kontraktor, tapi tidak sampai diterima bekerja. Juga pernah meminta untuk dimasukkan lamaran sebagai dosen di sebuah PTS di Bandung ke salah seorang dosen yang mengajar di sana. Tapi gayung tidak bersambut. Saya juga yang bodoh, karena berharap pada orang yang tidak dikenal. Dan memang saya punya kelebihan apa sehingga begitu PD nya mengajukan lamaran menjadi dosen di sebuah PTS terkenal. Apalagi orang yang saya minta rekomendasinya itu punya juga anak yang baru lulus kuliah tapi tidak bisa dengan mudah melamar menjadi dosen. Saya jadi sedih, tapi tidak patah arang. Terus saya berusaha mencari peluang.

Sampai suatu hari saya diminta datang untuk presentasi dan wawancara di sebuah universitas swasta baru di Bandung. Saya senang bukan main. Tapi saya tidak tahu tema apa yang akan saya angkat sebagai bahan presentasi saya. Jam 3 dini hari saya putuskan memilih tema tentang membangun bisnis. Saya anggap tema ini paling mudah. Saya ambil bahan-bahannya dari buku Menggagas Bisnis Islami karya M. Ismail Yusanto dan M. Karebet Wijaya.

Ketika diberikan pilihan akan mengajar mata kuliah apa, saya pilih di antaranya adalah Manajemen, Entreprenurship, Innovation and Creativity dan beberapa mata kuliah yang berkaitan dengan Manajemen. Saya buka presentasi dengan sederhana, dan saya berusaha untuk tampil percaya diri.

Baru setelah sekitar 1 bulan saya dipanggil untuk mengajar. Saya hampir putus asa karena dijanjikan hanya menunggu kabar selama 3 hari, ternyata perlu waktu sampai 1 bulan kemudian. Tidak ada kontrak, saya diangkat menjadi tenaga pengajar part time..

Hari pertama saya berusaha untuk tidak nervous. Saya yakinkan kalau saya mampu menerima amanah ini. Yang membuat saya merasa kurang percaya diri yaitu ketika harus mengajar kelas karyawan yang mahasiswanya terdiri dari mayoritas bapak-bapak yang usianya jauh di atas saya. Saya hanya bisa menyampaikan teori. Karena secara praktek saya masih minim ilmu. Seharusnya saya lah yang banyak belajar dari mereka. Alhamdulillah mereka mau membantu saya. Saya pikir, seandainya universitas tersebut punya sedikit kemampuan meng-hire tenaga dosen yang sesuai pasti lah tidak akan merekrut saya sebagai tenaga pengajar J. Saya merasa sangat bersyukur diberi kesempatan.

Di semester kedua saya diberi amanah mengajar satu kelas yang sepengetahuan saya terdiri dari anak-anak muda yang sudah berpengalaman di dunia entrepreneur. Ketika saya masuk di kelas lain saya PD saja walaupun sering tidak dihiraukan lantaran kebanyakan jurusan yang saya pegang itu jurusan teknik yang mayoritas adalah mahasiswa dan mereka tidak cenderung untuk mempelajari ilmu entreprenurship. Tapi di kelas yang satu ini saya merasa sedikit minder.

Saya tidak membiarkan rasa minder mendominasi pikiran saya, karena sambil mengajar saya terus mencari-cari informasi mengenai seminar-seminar seputar bisnis. Saya yakin saya bisa. Sebenarnya saya berharap memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi saya, namun kesempatannya belum ada. Dan saya sedih karena kegiatan-kegiatan yang saya ikuti kebanyakan adalah gratis, sementara yang bayar saya tidak bisa ikut karena keterbatasan dana. Saya dibayar per SKS. Untuk menambah uang bulanan saya memutuskan untuk bekerja di tempat lain.  Saya melamar ke playgroup, ke universitas swasta lain dan terakhir ke lembaga kursus komputer. Di tempat terakhir ini saya diterima mengajar. Upahnya pun tidak seberapa. Dihitung per jam mengajar. Tapi saya menikmatinya, karena ambisi saya memang menguasai ilmu komputer, walaupun untuk materi yang paling mudah.

Mungkin kalau teman-teman saya tahu saya digaji sangat kecil, mereka akan heran mengapa saya mau menerima pekerjaan-pekerjaan itu. Saya pun tidak tahu mengapa saya begitu bahagia menjadi tenaga part timer. Saya bersyukur bisa mengajar di sebuah PTS. Saya melihatnya sebagai peluang. Entah peluang apa. Karena saya juga punya teman yang sama-sama menjadi dosen di PTS. Tapi profesinya sebagai dosen hanya sebagai sambilan. Pekerjaan utamanya adalah mengajar anak-anak di lembaga kursus. Dari tempat mengajar kursus dia menerima gaji lebih besar. Menurut saya dia tidak melihat kesempatan mengajar di PTS sebagai sebuah peluang yang berarti.  Mungkin karena terikat kontrak dengan lembaga kursus tempat dia mengajar, jadi dia tidak bisa mengutamakan pekerjaannya mengajar di PTS.

Saya berpikir pengalaman saya mengajar bisa dijadikan bekal mengajukan beasiswa S2. Saya sempat underestimate ketika seorang teman mengatakan dia bahkan sudah pernah berjumpa dengan pemilik universitas tempat saya mengajar. Saya merasa terlalu keras berjuang di kelas ecek-ecek. Tapi saya tidak punya pilihan yang lebih baik dari apa yang sedang saya kerjakan. Saya menjadi part-timer yang bebas. Dan saya tidak terikat kontrak.

Karena satu sebab, saya memutuskan untuk berhenti mengajar kursus komputer. Praktis penghasilan pun berkurang. Saya mengajukan beasiswa. Tapi belum berhasil.

Suatu saat kampus tempat saya mengajar mengajukan akreditasi. Tim akreditasi PTS datang ke kampus untuk memberi penilaian. Saya diundang untuk hadir sebagai perwakilan dosen mata kuliah entrepreneurship. Saya hanya bisa tersenyum, di antara dosen-dosen yang hadir saat itu, saya lah yang masih bau kencur. Saya berharap bisa segera melanjutkan S2.

Setelah masa 2 semester mengajar, saya ditawari untuk menjadi tenaga pengajar tetap. Saya senang bukan main. Tapi ada syarat, katanya saya harus terlebih dahulu melanjutkan studi. Saya bilang saja saya memang sedang mengajukan beasiswa, mudah-mudahan diterima.

Saya tidak yakin, apakah saya benar-benar akan mendapatkan beasiswa S2. Sampai ada peluang mengajar di sebuah yayasan di Bogor. Saya yakin di sana adalah jalan saya mengabdikan diri lebih jauh.

Sebetulnya tidak ada yang benar-benar saya sukai dari tempat mengajar saya yang baru kecuali satu hal, yaitu kesempatan menghafal al-Qur’an, yang tidak saya dapatkan selama ini. Ketika didaftarkan kuliah S2 dengan biaya dari yayasan saya tidak terlalu senang, karena sebenarnya saya sangat ingin melanjutkan kuliah setidaknya di universitas negeri, kalau tidak ke luar negeri, lebih keren…. Karena biayanya dari yayasan, saya tidak bisa menentukan sendiri di mana saya akan melanjutkan kuliah.

Setelah beberapa waktu saya baru tersadar, selama ini saya hanya mengejar ilmu dunia. Tidak sempat mempelajari ilmu al-Qur’an. Betapa malunya saya.

Saya tidak lagi berambisi untuk S2 untuk sementara waktu. Setelah menikah saya fokus membantu usaha suami. Waktunya saya mempraktekkan ilmu yang sudah saya pelajari semasa kuliah. Menyusun laporan keuangan, mengatur standar operasi kerja, membuat surat kontrak dan lain sebagainya.

Saya belajar banyak dari pekerjaan saya ini. Dan saya banyak mengamati kegiatan suami saya. Suami saya merintis usahanya dari nol. Latar belakang pendidikannya adalah Bahasa Arab. Sebelumnya sempat juga menjadi santri pondok pesantren tahfidz, pondok pesantren khusus program menghafal al-Qur’an. Untuk ilmu agama insyaAllah beliau dapat diandalkan. Dalam mencari nafkah awalnya beliau mengajar, tapi jiwa bisnisnya lebih kuat, sehingga sekitar lebih dari 10 tahun yang lalu beliau memutuskan membangun sebuah perusahaan.

Perusahaan yang dibangun hanya bertahan beberapa tahun, setelah itu beliau putuskan menjalankan usaha milik orang lain. Baru setelah kami menikah beliau membuka kembali aktivitas korporasinya yang sempat vakum.

Di tengah kesibukan saya, saya jadi teringat kembali impian melanjutkan studi. Betapa tidak, setiap hal yang saya kerjakan berkaitan dengan ilmu manajemen yang saya pelajari di bangku kuliah. Saya berpikir akan meneruskan mimpi melanjutkan S2.

Tidak banyak yang saya lakukan untuk mengisi waktu luang. Saya memanfaatkan betul fasilitas internet yang ada di kantor. Dan saya pun sudah punya modem. Setiap saat saya online. Saya mencari informasi tentang ini dan itu. Saya jadi ingin punya toko online untuk berjualan. Karena saya tahu, saya tidak mungkin berjualan seperti saat saya kuliah dulu. Saya tidak mungkin lagi menawarkan barang dagangan ke teman-teman saya, karena untuk bisa pergi keluar rumah saya harus ditemani mahram.

Dan saya terinspirasi oleh Khadijah ra, pebisnis perempuan yang menjalankan usahanya dari rumah. Khadijah ra mengutus Maisarah untuk membawa barang dagangannya ke Syam. Setelah itu meminta Rasulullah SAW yang kala itu belum menjadi suaminya untuk menjadi pimpinan kafilah dagangnya.

Saya melihat-lihat beberapa toko online. Saya minder. Karena tidak punya ilmu sama sekali untuk berjualan di internet. Yang saya punya adalah ilmu membuat blog sederhana yang diajarkan oleh sahabat saya. Akhirnya saya buat blog sederhana sebagai toko pertama saya. Saya tidak yakin akan ada pengunjung. Beberapa bulan kemudian datang pelanggan pertama. Setelah itu hampir tidak ada yang berkunjung.

Di penghujung tahun 2011 saya memutuskan untuk membeli domain dan membuat toko online betulan. Saya begadang hampir setiap malam. Saya minta rekomendasi nama. Suami saya mengusulkan www.grosirherbalsunnah.com, dan sekarang website itu sudah masuk tahun ke-2.

Kemudian beberapa bulan setelahnya saya membuat toko online kedua, menjual jasa travel umroh. Di toko saya yang kedua saya fokus menjual paket umroh hemat. Paket itikaf Ramadhan tanpa makan. Murah meriah. Ini alamatnya http://backpacker-umroh.blogspot.com.

Kalau saya flash back, saya suka senyum-senyum sendiri. Tidak akan pernah mengira saya akan menjadi seorang penjual online. Saya tidak suka berada di bawah tekanan. Dan saya optimis saya bisa memperoleh peluang untuk mengembangkan kemampuan saya. Meskipun jalannya berliku, tapi saya senang dengan semua yang sudah saya peroleh saat ini. Tinggal ke depannya saya akan mengatur untuk memperoleh hasil yang lebih baik lagi.

Saya amati penjual herbal online sudah menjamur. Saya sendiri adalah pemain baru. Tapi saya optimis. Saya menjalankan bisnis ini dengan berbekal sedikit pengetahuan mengenai keutamaan herbal dan pengobatan cara Nabi SAW.

Untuk umroh, saya melihat sekian banyak travel menjual jasa umroh. Tapi hanya beberapa yang menawarkan paket backpacker. Saya berharap program ini bisa berjalan dengan baik. Saya optimis bisa merebut pasar umroh hemat. Setelah umroh pertama, saya merasa rindu untuk dapat kembali ke sana. Ini bukan hal yang aneh, karena setiap peziarah al haramain pastilah pulang ke tanah air dengan memendam rasa rindu untuk bisa kembali berziarah ke sana. Berbekal rasa rindu itu saya berusaha agar dapat berangkat lagi ke sana. Orang pasti akan berkata, suami saya akan segera memberikan jatah untuk pergi kesana, karena suami saya adalah pemilik travel. Tapi usaha kami ini tergolong masih baru. Dan saya tidak ingin menunggu terlalu lama untuk diberangkatkan dengan gratis. Saya akan berusaha semaksimal mungkin.

Saya sangat yakin, ketika seseorang bersungguh-sungguh dalam kebaikan Allah SWT pasti akan membukakan kemudahan dari arah yang Ia kehendaki.


Sabtu, 10 November 2012

Internet Marketing Jadi Booming?



Ketika magang di sebuah perusahaan mobil dari Jerman, saya membayangkan enaknya menjadi pekerja lepas di depan layar komputer dan menjalin hubungan dengan orang-orang secara online. Kala itu untuk mendapatkan akses internet di sekolah harus membayar sewa per jam. Koneksinya lambat, dan berebut. Alhamdulillah ketika magang selama 4 bulan penuh, di kantor tempat saya magang, saya bisa menikmati fasilitas internet gratis dan lumayan cepat koneksinya. Walaupun hanya sebatas jam istirahat, karena pada jam kerja semua komputer digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Saya memang berambisi pada komputer dan internet. Ketika SMP, saya dengan berbekal nilai Bahasa Inggris 6 di raport, mengambil les Bahasa Inggris dengan keinginan sendiri. Di saat yang bersamaan saya ingin sekali les komputer, namun sayang anggaran biaya les dari orangtua hanya untuk memilih salah satunya saja…

Jadi ketika saya mendapat informasi ada promo pelatihan internet gratis dari salah satu harian daerah di kota Bogor - tempat saya bersekolah dulu, saya senang sekali. Dalam pelatihan itu diperkenalkan istilah-istilah dalam dunia internet, sampai situ saya hanya faham internet sebagai media membuat email untuk korespondensi, sebagai sarana mencari sesuatu dan yang meng-asyikkan bagi saya kala itu adalah melalui internet saya bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang belum saya kenal. Di tahun 2002 masih trend chatting via mIRC dan saya pun mengenal istilah ASL (Age, Sex, Location) dan GTG (get to go).

Saya termasuk yang paling PD dalam pelajaran komputer. Saya masuk lab komputer paling pertama dan duduk di bangku paling depan, dekat dengan guru. Saya tidak ragu-ragu dalam mengoperasikan komputer, sementara teman-teman kala itu banyak yang tidak berani untuk sekedar mencoba-coba. Ketika sudah sampai pada praktek mengakses internet, saya senang bukan main. Apalagi ketika ada tugas untuk menelusuri bahan pelajaran di internet. Saya merasa tertantang.

Sampai pada saat kuliah internet bagi saya hanya sebatas sarana untuk mencari informasi yang saya perlukan. Tidak lebih. Bolak-balik ke warnet untuk mencari tugas kuliah. Dari zaman masih menggunakan disket sampai punya flashdisk dan MP4. Semua media penyimpanan itu penuh dengan data hasil pencarian tugas kuliah. Sekali-kali chating dan email-email-an, hanya itu…

Selepas kuliah, seorang sahabat mengajarkan saya membuat blog. Mengajak saya belajar berbagi melalui tulisan sederhana. Ini menarik. Dan dia membantu saya membuat akun facebook. Oh ya, saya memang kurang gaul saat itu…

Saya belajar menjadi seorang blogger dan saya promosikan blog sederhana itu pada semua orang yang bisa saya beritahu. Tanpa malu. Padahal hanya blog sederhana dengan konten sederhana. Blog itu adalah blog ini

Saya belum banyak tahu tentang ilmu blogging, sampai di tahun 2010, setelah menikah dan diberi kesempatan mengakses internet dengan leluasa, saya mendapatkan ilmu bahwa internet bukan hanya sekedar email, searching dan chatting.

Bisa mendapatkan uang dari internet…

 Ini yang paling seru, seperti yang saya idam-idamkan sejak kurang lebih 10 tahun yang lalu, ketika magang di perusahaan mobil Jerman. Duduk di depan komputer dengan santai, mengotak-atik sedikit dan jreengg,,, kita akan mendapatkan uang dari internet. Dulu saya tidak mengerti bagaimana caranya.

Bisnis Online
Pertama membaca aneka penawaran bisnis online, saya sangat tergiur, dengan hanya bermodal sekian ratus ribu rupiah bisa dengan cepat mendapatkan keuntungan berkali lipat. Atau dengan membeli semacam e-book kita akan mendapatkan keuntungan tertentu. Tapi saya bukan orang yang sanggup menjalankan sistem seperti ini.

Mengetik Captctha dan Mengerjakan Survey
Saya pernah larut dalam dua jenis pekerjaan yang melelahkan ini. Dari sekedar iseng menjadi kecanduan. Saya belajar mengetik sejak usia SD dengan mesin tik portable milik Ayah saya. Ketika SMK tidak canggung lagi dalam mengetik, sekalipun mesin tik yang digunakan lebih besar, yaitu mesin tik manual. Jari-jari akan sakit karena terjepit tuts kalau salah pencet. Saya bersyukur masuk di era digitalisasi canggih, eranya komputer dan laptop. Dengan komputer dan laptop saya bisa lebih mudah mengasah kemampuan mengetik. Ketika mengerjakan job mengetik captcha, saya melakukannya dengan serius tapi santai karena saya sudah terbiasa mengetik. Tapi keseriusan itu menyita waktu istirahat saya, dan hasilnya pun tidak seberapa. Akhirnya saya putuskan untuk meninggalkan pekerjaan ini, juga dengan pekerjaan mengisi survey. Saya pikir saya harus melakukan sesuatu yang lebih besar dari sekedar mengetik captcha dan mengerjakan survey. J

Mengelola Toko Online

Saya ingat, kata suami saya, dari 10 orang shahabat Nabi SAW yang dijanjikan surga 9 orang di antaranya adalah pedagang dan hanya 1 orang yang menjadi alim ulama, yaitu Ali bin Abi Thalib ra.

Abu Bakar ra, Utsman bin Affan ra, Abdurrahman bin Auf ra adalah di antara sahabat Nabi SAW yang dijanjikan surga dan mereka berprofesi sebagai pedagang. Bagaimana Abu Bakar sering membebaskan budak dari hartanya sendiri. Dan yang paling diingat dalam sejarah adalah upaya Abu Bakar ra dalam pembebasan Bilal bin Rabah ra dari majikannya Umayyah bin Khalaf. Juga ketika dalam suatu peperangan, Umar akan menyerahkan separuh dari hartanya untuk digunakan di jalan Allah dengan maksud menyamai Abu Bakar dalam hal berinfaq. Namun ternyata Abu Bakar ra telah lebih dulu menyerahkan seluruh hartanya untuk digunakan di jalan Allah.

Pun begitu dengan Utsman bin Affan ra dan Abdurrahman bin Auf ra yang keduanya adalah pedagang. Utsman bin Affan ra telah membeli sumur kehidupan bagi kaum Muslim di Madinah dan menginfakkan hartanya untuk Kaum Muslimin di perang Tabuk. Abdurrahman bin Auf menyedekahkan 700 ekor unta beserta seluruh muatannya untuk Kaum Muslimin. Mereka semua adalah sosok hartawan dan dermawan. Mereka adalah pedagang….

Ketika kembali mengingat kisah-kisah tersebut, saya kembali memusatkan pikiran untuk berjualan seperti semula. Tapi bukan sekedar berjualan secara konvensional. Saya akan menggunakan fasilitas internet secara penuh. Ini bukan hal yang baru di tahun-tahun belakangan. Mungkin saja saya termasuk orang yang terlambat mengetahuinya. Tapi saya rasa masih perlu dicoba dan ditekuni.

Mempromosikan barang dagangan di internet. Istilahnya internet marketing. Mungkin tidak sesederhana itu penjelasan mengenai internet marketing. Saya hanya menyimpulkan dari apa yang saya lakukan. Banyak cara. Awalnya saya tidak PD memperkenalkan dagangan di facebook. Saya terpusat pada website pribadi dan maksimalisasi situs jual beli yang ada. Saya membeli e-book sederhana mengenai internet marketing. Untuk mendukung pengembangan internet marketing yang saya jalankan.

Saat duduk di bangku kuliah, saya hanya tahu internet marketing adalah memasarkan produk/jasa di internet. Just it. Tanpa pernah tahu aplikasinya seperti apa…

Saya pun awalnya sekedar menggunakan blog sebagai sarana menulis artikel-artikel sederhana yang sifatnya pribadi. Saya senang ketika melihat statistik blog ada pengunjung yang berasal dari luar Indonesia. Saking senangnya saya berharap bisa membeli domain pribadi. Akhirnya saya menggunakan domain pribadi untuk sebuah blog sederhana. Saya masih belum PD. Padahal yang merespon sudah cukup banyak, dari teman-teman dan sesama blogger yang sekedar blogwalking.

Di saat yang sama saya membuat blog sederhana untuk berjualan. Sangat-sangat sederhana dengan domain gratisan. Tapi rezeki tidak kemana, dengan blog sesimpel itu toko saya mendapatkan  peng-laris. Satu, dua, tiga orang pembeli. Terus bertambah walaupun intensitas pengunjung toko sangat sedikit. Baru kemudian di penghujung tahun 2011 saya memutuskan membuat website dengan desain seperti layaknya toko online. Saya sempat hendak menggunakan jasa seseorang dalam men-design web. Tapi hasilnya kurang memuaskan. Kemudian dengan semangat dan dorongan dari suami saya mencari tips-tips hingga mengetahui beberapa ilmu dasar dalam pengembangan website. Sampai akhirnya jadilah website toko herbal yang saya kelola hingga saat ini, www.grosirherbalsunnah.com.

Website saya yang satu ini di link ke beberapa web directori dan mesin pencari. Juga di link ke situs pemeringkatan agar mudah mengetahui posisi website secara global. Saya sempat girang ketika website saya masuk ke urutan 7 jutaan. Saya sendiri keheranan, karena merasa tidak menguasai banyak ilmu blogging. Pembeli datang dan memesan beberapa produk. Masalah keuntungan saya tidak terlalu memikirkan, karena saya ingin di awal saya mendapatkan kepercayaan dari konsumen. Setelah statistic web mencapai angka 10 juta-an, saya bertambah senang. Padahal semakin hari saya semakin mengurangi barang dagangan saya, karena saya ingin lebih spesifik dalam menjual. Saya hanya akan menjual produk-produk yang saya sudah menjalin kerjasama dengan produsennya. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau ada yang pesan produk milik produsen lain akan saya carikan.

Yang wajib selalu dilakukan oleh pemilik toko online tentu saja online tidak hanya sekedar mengecek tokonya, tetapi juga eksis di layanan chating seperti Yahoo Messanger atau akun jejaring sosial seperti facebook. Ini akan memudahkan konsumen bertanya mengenai produk mulai dari kesediaan barang dan spesifikasi produk lebih lanjut.

Saya belakangan baru tahu bahwa di tahun 2013 internet marketing akan menjadi booming. Yang saya amati memang sejak tahun 2011 sudah bermunculan para penjual yang menjajakan barang dagangannya di internet. Pakaian, aksesoris, gadget, peralatan elektronik kantor dan rumah tangga, obat-obatan, herbal, buku, sepatu, jasa pembuatan website, jasa terjemah bahasa asing, sampai barang-barang kecil seperti keset dan lap pel juga dijual secara online.

Saya termasuk yang beruntung bisa nyelip di urutan teratas mesin pencari google untuk website www.grosirherbalsunnah.com dengan keyword “Hulbah”, herbal booster ASI. Juga berada di page pertama untuk blog http://backpacker-umroh.blogpsot.com dengan keyword “Umroh Backpacker”. Sekarang toko online sudah semakin menjamur. Saya iri melihat orang-orang yang sudah lebih dulu mengenal dan mengaplikasikan internet marketing sejak tahun 2007 atau 2008 atau 2009. Tenggang waktu lebih dari 3 tahun dengan kekuatan promosi yang kontinu akan memudahkan toko online masuk ke urutan teratas mesin pencari untuk kata kunci tertentu.

Tapi saya harus tetap optimis. Saya yakin setiap orang punya jalan rejekinya masing-masing. Saya akan terus melangkah. Karena saya merasa saya sudah menemukan dunia saya. Suatu saat terjadi kiamat teknologi, mungkin saja, tapi untuk saat ini saya akan terus mengembangkan minat saya ini. Saya yakin masih ada peluang. Bagaimana dengan Anda?



Site Search